Sabtu, 29 Oktober 2016

Menelisik Edukasi Terselubung Dibalik Instagramablenya Festival Payung

Spot Foto Instagramable di Festival Payung Solo 2016
(dokumentasi pribadi)
Di era teknologi berkecepatan tinggi seperti saat ini, terbukanya potensi wisata suatu daerah tidak lepas dari kecerdikan pemangku daerah dalam menangkap maupun menciptakan peluang wisata. Dalam hal inovasi wisata, Solo menjadi salah satu kota di Indonesia yang cukup jeli dalam memanfaatkan dampak viral media sosial. Perlu bukti? Lihat saja berbagai event wisata Solo dalam satu dasawarsa terakhir. 

Dalam, sepuluh tahun terakhir Solo mampu menciptakan berbagai event wisata kekinian yang digandrungi lintas kalangan. Festival Jenang Solo misalnya. Selain berhasil menaikkan pamor aneka varian jenang (baca: bubur), event tahunan yang menyediakan ribuan porsi jenang gratis ini akhirnya mampu memperkuat branding Solo sebagai salah satu destinasi wisata yang diperhitungkan, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. 

Selain Festival Jenang Solo, kota cantik ini juga menawarkan berbagai event wisata yang begitu viral di sosial media. Satu diantaranya bertajuk Festival Payung Solo. Dua tahun lalu, saya kira event wisata bertabur payung yang melayang di awang-awang ini dihelat di mancanegara. Ternyata perkiraan saya salah. Kenyataannya festival unik ini ternyata dihelat di negeri sendiri, tepatnya di Taman Balekambang. Siapa sangka coba? Kerennya lagi nih, ternyata surga selfie terfasilitasi ini mampu menjadi perantara berbagai edukasi epik yang menarik untuk diulik. Yuk tengok sama-sama!



Tentang Festival Payung Solo 
Ma, Nggak Sampai Ma -_-
(dokumentasi Rini)
Festival Payung Solo merupakan event wisata yang mempertemukan pelaku industri kreatif dengan masyarakat luas. Meski tersemat nama payung dan Solo, namun pelaku industri payung yang terlibat di festival ini tidak hanya berasal dari Solo saja lho, namun melibatkan pula pengrajin dari negeri tetangga seperti Jepang, Thailand, Kamboja hingga Tiongkok. Selain itu Festival Payung Solo juga merangkul berbagai komunitas, penggiat seni maupun wirausahawan dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Jadi selain menjadi ajang edukasi dan hiburan bagi masyarakat luas, festival ini juga mampu menciptakan ruang dan peluang bagi seniman hingga wirausahawan! Salut!

Asyiknya lagi nih, tidak ada tiket masuk yang dikenakan dalam event wisata tahunan Solo yang satu ini. Jadi yang suka wisata gratisan, tahun depan jangan sampai kelewatan ya! Selain ada berbagai stand komunitas, di sini Anda juga dapat menemukan aneka stand lainnya seperti photo booth, stand tenun tradisional hingga aneka stand makanan ataupun minuman termasuk oleh-oleh khas Solo seperti Roti Kecik Ganep. Lengkap banget!
Beberapa Stand Kewirausahaan di Ajang Festival Payung Solo 2016  
(dokumentasi pribadi)
Tahun ini, Festival Payung Solo digelar selama tiga hari berturut-turut, mulai Jum’at, 23 September hingga Minggu, 25 September 2016 bertempat di Taman Balekambang. Di tahun sebelumnya, Festival Payung Solo ternyata dihelat di bulan yang sama, yaitu bulan September. Jika kalau tidak mau ketinggalan keseruan Festival Payung Solo tahun depan, ada baiknya mulai mengeset alarm sedari sekarang. Apalagi jika Anda beromisili di luar kota Solo yang memerlukan cuti ataupun reservasi berbagai hal yang terkait dengan akomodasi.

Sesi mbolang kali ini saya ditemani teman seangkatan waktu kuliah, sebut saja Rini (nama sebenarnya). Karena saya dan Rini hanya libur di hari Minggu, sepakatlah kami untuk datang di hari terakhir gelaran Festival Payung, yaitu di hari Minggu. Untuk menghemat tenaga sekaligus menghindari kemacetan yang seringkali terjadi saat akhir pekan, kami sepakat naik Kereta Prambanan Ekspres alias Prameks. Berbekal dua tiket pulang pergi seharga Rp 32.000 (1 tiket keberangkatan Prameks=Rp 8.000), kami siap memulai seseruan di acara bertaraf internasional ini. 
Jepret-Jepret di Becak
(dokumentasi Rini)
Sesampainya di Stasiun Balapan, cuaca terlihat cerah. Ini pertanda baik. Paling tidak bisa selfie sepuas hati. Dengan pertimbangan jarak Stasiun Balapan dan Taman Balekambang yang cukup dekat, akhirnya kami memilih untuk naik becak. Entah mengapa semilir angin saat naik becak itu selalu bikin happy, termasuk dalam perjalanan kali ini. Tarif naik becak dari Stasiun Balapan ke Taman Balekambang umumnya dibanderol dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 20.000 saja. Yang mau kasih lebih, boleh banget lho ya! 

Ternyata, antusias wisatawan dalam event kenamaan Solo kali ini sebelas dua belas dengan sepenggal lirik lagunya Bang Sandhy yang “tak pernah padaaaaam…” itu. Gimana enggak coba, beberapa ratus meter dari Taman Balekambang saja sudah macet. Walhasil tanpa perlu dikode, kami pun meminta turun dari becak seraya berbegas menyusuri jalan utama menuju Taman Balekambang bersama dengan ratusan wisatawan lain yang sama antusiasnya dengan kami berdua. Usai berjalan dengan kecepatan siput selama beberapa saat, sampailah kami di depan gapura Taman Balekambang. Penasaran dengan beragam pembelajaran yang saya dapati saat berkunjung ke festival epik ini? Berikut reportasenya!

1. Belajar Tahu Diri

Dari area tempat saya berdiri, di langit-langit gapura Taman Balekambang sudah berjajar ratusan payung hias yang telah diatur sedemikian rupa sehingga cantik sekali untuk background selfie maupun wefie. Ada yang bermotif batik, topeng, poleng hingga kombinasi berbagai warna kontemporer yang begitu cerah dan meriah. Pantas saja kerumunan orang di tempat ini bak lautan semut di gudang gula. Banyak sekali yang berhenti untuk sekedar menambah stok selfie, tidak terkecuali si penulis itu sendiri. 
Kepadatan Festival Payung Solo 2016
(dokumentasi pribadi)
Dengan kepadatan pengunjung yang begitu rapat inilah wisatawan tidak hanya dituntut untuk antri saat mau selfie, namun dituntut pula untuk sadar diri saat jepret sana jepret sini. Pasalnya tidak semua orang suka selfie ataupun wefie. Ada pula yang datang karena ingin melihat pentas seni, mengikuti kelas pelatihan atau sekedar jalan sembari kulineran. 

Ternyata banyak lho wisatawan berhenti di jalan untuk sekedar mengambil moment unik yang tengah ditemui. *ditulis sembari nunjuk hidung sendiri. Meski banyak yang jepret-jepret di jalanan, tapi nggak ada lho pengunjung yang sengaja "merusak suasana" pengunjung lainnya. Setelah menyadari hasil selfie banyak yang bernilai "merah", tak ada angin, tak ada hujan tetiba saja mata saya melongo melihat pada sosok wanita yang rela berkampanye dengan tongkat berpapan yang bertuliskan: no sampah ZERO WASTE festival

Ternyata masih banyak juga ya orang baik di negeri ini. Meski di era kekinian, masih saja ada yang peduli dengan hal-hal "beginian". Dengan rasa ingin tahu yang cukup menggebu, akhirnya saya datangi mbak-mbak keren tadi sembari bertanya: “Mbak, sedang apa?”.*pertanyaan aslinya sih berbunyi: “Mbak, lagi ngapaiiiin?! Kok nggak selfie-selfie cantik sih?”. Editan semata-mata untuk pencitraan saja, agar si penanya terlihat lebih elegan.

“Ini Mbak, kami dari komunitas Kresek. Kami sedang mengkampanyekan nol sampah di event Festival Payung Solo 2016. Stand kami juga ada di dalam kok Mbak”, jawabnya ramah.

Noted!”, jawab saja dalam hati sembari mengangguk-anggukkan kepala.

“Mbak, boleh minta foto?”, tanya saya sedetik kemudian.

Si Embak pun mengangguk tanda setuju. Ini dia penampilan mbak-mbak keren tadi:
Relawan di Festibal Payung Solo 2016
(dokumentasi pribadi)
Beberapa detik sebelum saya mengucap “Terima kasih informasinya Mbak!” sembari melambaikan tangan bak puteri kekinian, saya teringat akan suatu hal fundamental yang hampir terlupa dari ingatan. Saya lupa menanyakan nama. Ternyata namanya Santika.
.
“Retno”, ucap saya menimpali sembari menyodorkan tangan kanan. Usai adegan berjabat tangan, akhirnya ungkapan terima kasih dapat saya ucapkan lengkap dengan lambaian tangan dan tatapan sedikit kebingungan karena sudah ditinggal rombongan. Lho, kok jadi rombongan sih Ret? Bukannya tadi cuma berdua? 

Jadi waktu masih di kereta si Rini melihat sekelebat pemandangan yang mirip dengan wajah salah satu teman kantor. Karena wanita selalu butuh kepastian, akhirnya Rini melakukan investigasi ke gerbong sebelah. Ternyata benar. Sekelebat pandangan tadi memang teman kantor Rini. Dia ke Solo bersama dua orang teman lainnya. Jadilah rombongan kami kini berjumlah 5 biji. Sayangnya usai berfoto di depan gerbang, kami terpaksa berpisah karena beda agenda. Mereka bertiga berencana  ke Keraton, sedangkan saya dan Rini memang memilih untuk fokus menikmati event seru ini. 

Usai melewati gerbang Taman Balekambang, kami disuguhi dengan bangunan gapura bambu berbentuk segitiga bertuliskan Museum Payung. Sesuai dengan namanya, tempat ini ibarat ruang yang menawarkan beragam kreasi payung hias. Oiya, kerangka payung yang digantung di festival ini bukan terbuat dari alumunium atau besi, namun terbuat dari material ringan seperti potongan dari kayu atau bambu. Museum Payung ini akan menghantarkan wisatawan ke puluhan stand pilihan yang turut memeriahkan perhelatan Festival Payung Solo 2016.

2. Belajar untuk Lebih Menyayangi Bumi
Dari sekian banyak stand yang ada, tentu stand Komunitas Kresek-lah yang paling saya cari. Ternyata nama Kresek sendiri merupakan kepanjangan dari Kreasi Sampah, Ekonomi Kota. Pendirian komunitas yang fokus pada permasalahan sampah di Indonesia ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan sehingga dapat mewujudkan Indonesia bebas sampah. Sip banget!
Zero Waste di Festival Payung Solo 2016
(dokumentasi pribadi)
Di stand ini wisatawan diberi kursus singkat terkait pengolahan berbagai limbah kemasan yang kerap digunakan dalam keseharian seperti botol minuman ataupun aneka bungkus makanan. Ada yang dibuat menjadi hiasan, bros hingga dompet, cluth maupun tas. Beberapa produk di stand ini dijual dengan harga yang cukup bersahabat. Menariknya lagi tidak hanya kawula muda saja yang antusias dengan kegiatan daur ulang ini. Waktu itu saya sempat melihat ibu dan puteri kecilnya untuk belajar di stand ini. Tidak hanya itu, ada pula nenek-nenek yang begitu antusias mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan dalam rangkaian Festival Payung 2016. 
Asyiknya Pelatihan Daur Ulang Sampah di Festival Payung Solo 2016
(dokumentasi pribadi)
Meski sampah tak dapat bicara, namun niscaya ia akan menjadi saksi atas kepedulian kita pada dunia. Saran saya sih jangan malu untuk menggunakan produk daur ulang. Kalau saya pribadi lebih suka mendaur ulang botol plastik minuman menjadi tempat menanam atau menyemai bibit tanaman, seperti mint, pare, pepaya ataupun cabai. Oiya, ada lho sahabat saya yang memilih souvenir pernikahan dari daur ulang sampah. Pio namanya. Waktu itu olahan sampahnya disulap menjadi bros. Harunya lagi, bros daur ulang tadi dia bikin sendiri. Keren Pi! Hingga kini, bros ini masih menduduki peringkat tertinggi di hati alias bros kesayangan. Yang bingung cari souvenir ramah lingkungan, bisa dicoba lho ide teman saya tadi!

3. Menambah Keterampilan
Selain mendaur ulang sampah, ada pula pelatihan merajut, menenun hingga belajar menghias payung. Berikut potret keseruannya:
Pelatihan Melukis Payung Hias di Festival Payung 2016
(dokumentasi pribadi)
Dari sekian banyak stand yang ada di Festival Payung Solo, Stand Komunitas Crafting-lah yang cukup menyita perhatian saya selanjutnya. Selain diwarnai dengan acara merajut rame-rame, komunitas ini juga memamerkan berbagai kreasi payung rajut aneka rupa dan warna. Selain banyak payung rajut yang seukuran payung pada umumnya, ada pula kreasi payung rajut yang berukuran raksasa dengan diameter sekitar tiga meter. 

Sebagai orang yang belum sukses membuat rajutan syal berukuran 150x60 cm, tentu hal ini cukup membuat saya terbengong-bengong. Selain over kagum, haru rasanya membayangkan ketekunan para crafter yang berpartisipasi dalam perhelatan akbar ini. Di stand sini Anda juga dapat membawa pulang miniatur payung rajut yang dijual seharga Rp 10.000.
Penampakan Payung Rajut Raksasa di Festival Payung 2016
(dokumentasi pribadi)
4. Mengetahui Ragam Inovasi Tenun Klaten
Sebenarnya sehari sebelum kesini, ada adik angkatan yang mengunggah foto sedang berada di dekat alat tenun tradisional atau yang kerap disebut dengan alat tenun bukan mesin (atbm). Meski terkesan sepele, namun sebagai pecinta kain tradisional nusantara yang merangkap sebagai pejual produk etnik seperti saya, adanya atbm mampu mendongkrak produksi si hormon happy

“Pasti ada stand kain tenun nih”, gumam saya dalam hati tatkala melihat postingan atbm lengkap dengan rangkaian benang yang siap ditenun itu. Sesuai dengan perkiraan, ternyata memang ada stand khusus pejualan kain tenun Klaten, lengkap dengan mesin atbm yang diletakkan di dekat pohon (mungkin) beringin raksasa. Ini dia mesinnya! 
Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)
(dokumentasi pribadi)
Ternyata menggunakan mesin atbm tidak semudah melihat video ataupun pengrajin yang sedang menenun lho guys! (Yaiya lah!) Harus cepat, tepat dan kuat. Karena itulah saya nggak tega nawar kalau mau beli kain tradisional. Apalagi kalau bertemu langsung dengan pengrajinnya. Paling sekedar tanya kalau beli banyak ada harga grosirnya atau tidak. Gimana mau tega nawar coba, sudah bikinnya susah, perlu waktu lama, eh harus sabar dan teliti pula.

Geliat kewirausahaan dalam Festival Payung Solo tahun ini diramaikan pula dengan kehadiran stand Prasaja Kusumatex, salah satu brand tenun dari Klaten. Kawasan Klaten memang dikenal sebagai salah satu lumbung produksi tenun nusantara. Sependek pengetahuan saya, Klaten memang menawarkan berbagai inovasi menarik dalam mengembangkan dan melestarikan kain tenun tradisional. 

Selain memproduksi beragam jenis tenun, mulai dari tenun polosan hingga aneka jenis tenun klasik, para pengrajin tenun dari Klaten juga berani berinovasi, baik pada warna maupun proses pembuatan tenun tradisional. Jadi selain berhasil membumikan kain tradisional dengan mengkombinasikan beragam warna kontemporer yang ceria dan berkesan modern, kini Klaten juga dikenal sebagai produsen tenun batik dan tenun shibori. Sebuah inovasi yang rasa-rasanya belum dilakukan oleh pengrajin di daerah lain. Berikut gambaran selengkapnya!
Gambaran Inovasi Tenun Klaten 
(dokumentasi pribadi)
Inovasi yang dilakukan pengrajin kain tenun dari Klaten ini dilakukan dengan menggabungkan proses batik cap maupun aplikasi shibori pada kain tenun. Teknik inovatif ini ternyata membawa angin segar bagi upaya pelestarian tenun tradisional nusantara. Selain menambah nilai jual tenun tradisional, inovasi ini diharapkan mampu menggaet pangsa "pasar" yang lebih besar, termasuk fashion generasi muda kita. Di event ini saya membeli tenun motif hujan gerimis dengan gradasi warna cukup unik. Matching kan?
Mix and Match Tenun
(dokumentasi pribadi)
Selain menjual dalam bentuk kain, Prasaja Kusumatex juga menjual beragam busana bernuansa etnik. Asyiknya lagi, ternyata beragam jenis tenun yang dijual di stand Prasaja dibanderol dengan harga showroom. Ibarat sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Mau selfie-selfie cantik, bisa. Ingin menambah pengetahuan plus kulineran, juga bisa. Bahkan mau belanja kain tradisional dengan harga pengrajin pun bisa. Kurang apa coba? 

5. Belajar Mengenal Budaya
Selain itu, Festival Payung Solo juga menyediakan ruang yang menjembatani sekaligus mengapresiasi kreasi para seniman lokal. Salah satunya ya pagelaran drama Jawa berikut ini. 
Pentas Seni di Festival Payung Solo 2016
(dokumentasi pribadi)
Selain menghibur masyarakat, pentas seni semacam ini merupakan wujud nyata pemerintah dalam mengenalkan sekaligus melestarikan warisan budaya nusantara, tidak terkecuali dengan penggunaan bahasa daerah, musikalitas hingga pakaian adatnya. Keren deh!

6. Belajar Antri
Di festival ini, antri tidak hanya berlaku saat mau selfie saja lho, namun berlaku pula saat ingin membeli berbagai produk yang dijual di sepanjang Taman Balekambang. Apapun yang mau dibeli wajib antri, tidak terkecuali saat ingin mencicipi camilan legendaris ini. 
Stand Arum Manis yang Laris Manis
(dokumentasi pribadi)
Saking banyaknya pengunjung yang berminat membeli arum manis, penjualnya sampai bilang: "Saya buatkan siapa dulu ya?". Ternyata tanpa perlu serobotan, para calon pembelilah yang menentukan sesuai nomor antrian yang ada di dalam ingatan. Meski terkesan sepele, namun good attitude semacam ini  tentu akan membekas baik di hati. Kalau saya boleh memposisikan diri sebagai wisatawan asing, saya tidak ragu untuk datang lagi di berbagai event lain yang dihelat di kota cantik ini.

7. Belajar Memilah Sampah
Selain mengenalkan gerakan zero waste festival, Taman Balekambang juga menyediakan aneka jenis tempat sampah, seperti tempat sampah organik, tempat sampah daur ulang hingga tempat sampah residu. Selain memberikan edukasi pada masyarakat sekaligus mengenalkan aneka varian sampah, pengelompokan sampah semacam ini tentu akan mempermudah proses daur ulang yang dilakukan oleh berbagai komunitas peduli lingkungan yang telah terbentuk. 
Ragam Tempat Sampah di Bale Kambang
(dokumentasi pribadi)
Jika ditanya tentang helatan Festival Payung Solo 2016, secara keseluruhan saya begitu menikmati dan mengapresiasi event tahunan Solo yang satu ini. Salut banget sama panitianya, tidak terkecuali dengan mbak dan mas panitia ini:
Panitia Festival Payung Solo 2016
(dokumentasi pribadi)
Jadi jangan tanya lagi kenapa tempat sampah di event sebesar ini kok sampahnya terkesan kosong ya? ^^

Bagaimana dengan keseruan cerita liburan Anda saat menikmati gayengnya pesona wisata Jateng? Ditunggu sharing ceritanya ya!


Salam hangat dari Jogja,
-Retno-


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

Banner Lomba Blog Jateng 2016
(sumber: www.central-java-tourism.com)

2 komentar:

  1. Acaranya penuh edukasi yaa...keren..!!

    BalasHapus
  2. Iya, memang keren.. Bisa selfie sana-sini lagi^^

    BalasHapus

 

Cerita NOLNIL Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates