Sabtu, 23 Juni 2018

Koperasi Milenial di Era Digital

KUD Tani Makmur (Dokumentasi Pribadi)
Foto di atas merupakan bagian dalam salah satu Koperasi Unit Desa (KUD) yang berada tak jauh dari tempat tinggal saya. Kalau dulu KUD di tempat saya cukup identik sebagai tempat untuk membayar listrik, tempat menjual sembako ataupun tempat menjual beragam kebutuhan petani, kini KUD sudah berkembang sekaligus berbenah sedemikian rupa sehingga dapat diterima oleh generasi milenial yang hidup di era digital. 
KUD Tani Makmur (Dokumentasi Pribadi)

Tak ayal, selain menjadi jujukan belanja banyak ibu rumah tangga, salah satu lini KUD Tani Makmur yang bergerak di sektor perdagangan barang ini juga menjelma sebagai tempat jajan banyak anak muda. Kini koperasi berbentuk toko serba ada yang didesain nyaman dan kekinian ini bisa dibilang layak bersaing dengan gurita ritel mikro yang banyak tersebar di berbagai sudut kota di Indonesia. Di sisi lain, saya juga menemukan koperasi keren bernama Koperasi Mahasiswa UGM, yang kerap disingkat dengan sebutan Kopma UGM.

Belajar dari Kopma UGM

Sesuai dengan namanya, lahirnya Kopma UGM berawal dari gagasan pemenuhan kebutuhan mahasiswa melalui unit usaha yang dikelola sendiri oleh mahasiswa. Dari mahasiswa, oleh mahasiswa, untuk mahasiswa. Demikian kira-kira. Menariknya, seiring dengan perkembangan jaman, Kopma UGM mampu beradaptasi sekaligus berinovasi hingga mampu menjelma menjadi salah satu Kopma yang cukup diperhitungkan di Yogyakarta.

Kini koperasi mahasiswa yang berbadan hukum sejak 2 Agustus 1982 ini dapat dijadikan contoh bagaimana sebuah koperasi mampu berkompetisi di era digital. Karena selain melibatkan tenaga dan buah pikiran para generasi muda yang dikenal sebagai generasi milenial, Kopma UGM juga “melek digital” yang dibuktikan dengan melakukan branding koperasi melalui berbagai kanal media sosial mulai dari Instagram, Youtube, Facebook, Twitter, Line hingga website.

Kanal Instagram Kopma UGM (Dokumentasi Pribadi)
Sebagai koperasi yang “melek digital”, Kopma UGM benar-benar menggunakan media sosial dengan maksimal. Menariknya, media sosial Kopma UGM tidak hanya digunakan untuk branding semata, namun digunakan pula sebagai media komunikasi baik bagi konsumen maupun calon anggota koperasi. Jadi selain menawarkan berbagai promo menarik untuk konsumen, media sosial Kopma UGM digunakan pula untuk memperkenalkan program pendidikan untuk para anggota koperasi, baik untuk meningkatkan skill anggota koperasi maupun menyiapkan kader terbaik koperasi untuk menjalankan periode jabatan tertentu meliputi pendidikan dasar perkoperasian, pendidikan organisasi dan pendidikan manajemen.

Mungkin berbagai program pendidikan untuk anggota seperti yang dilakukan oleh Kopma UGM di atas merupakan hal yang wajar, yang wajib dilakukan di setiap koperasi. Bedanya, Kopma UGM mengkomunikasikan perihal pendidikan ini ke khalayak ramai, yang notabene bisa menjadi calon konsumen, konsumen loyal, generasi milenial (mahasiswa) yang berpotensi menjadi anggota maupun sebagai pengingat pada anggota koperasi itu sendiri. Dari berbagai konten yang dikomunikasikan melalui media sosial ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kini Kopma UGM tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai ekonomi yang dihasilkan koperasi saja, namun sudah melakukan branding secara berkala untuk mendapatkan sekaligus mempersiapkan calon anggota sebagai kader koperasi yang cerdas, yang  diharapkan mampu menakhlukkan persaingan pasar sekaligus melakukan perbaikan manajemen koperasi di masa yang akan datang.

Difersifikasi Produk dan Layanan Koperasi di Era Milenial

Ibarat orang jualan, mau tak mau koperasi harus bersaing dengan berbagai unit usaha yang memiliki fokus jualan serupa. Terkait hal ini ada beberapa produk koperasi yang menarik perhatian saya, dimana tiga diantaranya adalah Kopma UGM, KSP Kopdit Tri Tunggal dan KOPIKKON yang mampu menyiasati persaingan produk dengan lini usaha terkait dengan cukup cerdik. Mari dimulai dari Kopma UGM terlebih dahulu. Selain menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari para mahasiswa utamanya yang berada di lingkup UGM seperti makanan, minuman, produk perawatan tubuh dan alat tulis, ternyata Kopma UGM memiliki produk khusus yang tidak dijual di tempat lain yakni aneka rupa merchandise khas UGM seperti kalender, kaos, topi, jaket hingga berbagai pilihan souvenir wisuda.

“Kenapa kalendernya harus UGM sih Pak?”, tanya seorang kawan saya karena cukup keheranan ketika diminta membelikan kalender UGM di awal tahun ini.

“Biar inget aja anak bapak dulu kuliahnya di UGM”.

Kekhasan produk yang dijual Kopma UGM inilah yang menjadi salah satu kunci bonding Kopma UGM dengan civitas akademika maupun alumni UGM dimanapun mereka berada. Berulang kali saya menemukan kawan yang rela jauh-jauh datang ke Kopma UGM sekedar membelikan titipan kalender maupun souvenir khas UGM di koperasi yang beralamatkan di Bulaksumur, H-7 & H-8 Yogyakarta ini. Lokasi yang strategis karena berada tepat di tengah-tengah lingkup universitas, lengkap dengan area pakir yang memadai juga menjadi alasan mengapa koperasi ini tetap menjadi pilihan banyak kalangan untuk belanja atau sekedar jajan makanan ringan.

Banner Promosi KSP KOPDIT TRI TUNGGAL (Dokumentasi Pribadi)
Lain Kopma UGM, lain pula KSP Kopdit Tri Tunggal. Saya ingat betul ada sesuatu hal unik yang saya temukan saat berkesempatan mewawancarai salah satu karyawan koperasi yang beralamatkan di Bendo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarya ini. Pasalnya selain melayani pembayaran listrik, pulsa listrik, speedy, koperasi yang berada di depan salah satu sekolah dasar di kawasan Imogiri ini juga melayani pinjaman dan berbagai simpanan meliputi simpanan harian, simpanan pendidikan, simpanan berjangka hingga simpanan hari raya.

Setidaknya simpanan harian cukup menarik minat saya karena kebanyakan penabung non anggota koperasi berasal dari berbagai kalangan mulai dari pedagang, anak PAUD maupun anak sekolah dasar. Besaran nominal yang bisa disetorkan pun terbilang sangat ringan, mulai Rp 5.000 saja. Meski terdengar sepele, namun selain dapat menjadi ajang menghimpun dana dari masyarakat, simpanan harian dapat menjadi media untuk mengenalkan salah satu bentuk investasi masa depan yang begitu ringan bagi generasi muda kita.

Selain itu saya juga megenal KOPIKKON yang merupakan kepanjangan dari Koperasi IKKON, sebuah koperasi besutan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Republik Indonesia. IKKON (Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara) sendiri merupakan program live in pelaku kreatif yang bertujuan untuk mengangkat potensi ekonomi kreatif lokal sebagai pilar utama kekuatan ekonomi kreatif Indonesia di masa yang akan datang. Setiap tahunnya, program kolaboratif yang sudah dimulai sejak tahun 2016 yang lalu ini akan menempatkan peserta IKKON di lima kabupaten tertinggal maupun kabupaten perbatasan di Indonesia.

Program live in yang melibatkan para desainer lintas bidang seperti desain produk, desain interior, desain tekstil, desain fashion, desain komunikasi visual, arsitek yang didukung oleh peran business advisor, fotografer, videografer, antropolog dan mentor ini akan berkolaborasi dengan pelaku kreatif di daerah untuk mengangkat berbagai potensi ekonomi lokal agar dapat diterima di pasar nasional maupun global. Salah satu hal menarik yang patut digarisbawahi adalah terciptanya ethical benefit sharing yang adil dan berkelanjutan antara peserta IKKON dengan kolaborator, yang dalam hal ini adalah local champion di masing-masing lokasi penempatan IKKON.

Desainer IKKON 2016 dan IKKON 2017 Usai Menampilkan Karya pada Ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 (Dokumentasi BEKRAF)
Salah Satu Karya Kolaboratif Desainer IKKON 2017 dengan Local Champion di Banjarmasin
(Dokumentasi Vebrio Kusti)
Saat ini sebagian besar anggota KOPIKKON berasal dari alumni Program IKKON. Di tahun ke-3 program IKKON ini KOPIKKON telah memamerkan berbagai karya kolaboratif yang dibuat bersama pengrajin lokal di berbagai program bergengsi nasional seperti Jakarta Fashion Week 2018, Adiwastra 2018, Inacraft 2018 dan Casa Indonesia 2018. Salah satu kabar menggembirakan datang dari ajang bergengsi Casa Indonesia 2018 yang berlangsung pada 31 Mei hingga 03 Juni 2018 lalu, dimana salah satu produk fashion karya desainer IKKON, Lia Chandra terpilih sebagai produk terfavorit oleh desainer kenamaan dunia, Giulio Cappellini. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa koperasi milenial dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi karya kolaboratif para desainer muda Indonesia dengan ratusan bahkan ribuan local champion dari berbagai penjuru nusantara.

Berkaca pada berbagai inovasi produk koperasi yang ada di Indonesia inilah, juga data terakhir jumlah koperasi per Desember 2017 yang mencapai  153.171 unit, tidak heran jika dalam Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-70 pada tahun 2017 lalu pemerintah bertekad mewujudkan koperasi menuju pemerataan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Strategi Pemerintah Meningkatkan Kinerja Koperasi di Era Milenial

Ibarat ingin memperkokoh sebuah pondasi, tiga tahun terakhir pemerintah melakukan reformasi koperasi melalui tiga program utama yakni rehabilitasi, reorientasi dan pembangunan koperasi yang meliputi:

1.     Kemudahan Proses Pendirian Koperasi.

Menariknya, proses rehabilitasi dan reorientasi ini kini dilakukan secara online. Proses rehabilitasi koperasi dilakukan dengan melakukan pembekuan dan pembubaran koperasi dengan Online Data System sehingga setiap koperasi akan memperoleh Nomor Induk Koperasi (NIK). Setelah melakukan sertifikasi, koperasi yang lolos uji akan mendapatkan NIK dan sertifikasi NIK. Lebih lanjut lagi, guna mempermudah pendirian badan hukum koperasi, kini system administrasi badan hukum koperasi dilakukan secara online. Selain itu proses reorientasi koperasi juga dilakukan dengan cara serupa, yakni membangun koperasi dengan basis informasi teknologi. Hal ini tentu akan mempermudah generasi milenial saat berkomitmen mendirikan koperasi.
Berdasarkan proses rehabilitasi yang dilakukan dengan melakukan pembaharuan organisasi melalui pemuktahiran data diketahui ada ada sekitar 75 ribu koperasi sehat, 75 ribu koperasi yang tengah dibina pemerintah supaya jadi sehat dan sekitar 40 ribu koperasi tidak sehat yang akan dibekukan dan dibubarkan. Untuk mengimbangi jumlah koperasi yang akan dibekukan, tahun ini pemerintah mengimbanginya dengan menargetkan terbentuknya 3000 koperasi baru di tahun 2018.

2.     Memperkuat akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat dan Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro, Kecil, Menengah (LPDB – KUMKM)

Berdasarkan beberapa wawancara yang pernah saya lakukan dengan pengurus koperasi, terbatasnya modal udaha menjadi salah satu kendala pengurus dalam mengembangkan koperasi. Kabar baiknya, terhitung sejak 1 Januari 2018 ini suku bunga KUR turun dari 9% menjadi sebesar 7% per tahun. Begitu pula dengan suku bunga LPDB – KUMKM yang sejak tahun 2017 lalu menurunkan suku bunga pinjaman kepada koperasi, khususnya koperasi simpan pinjam dari 8% per tahun menjadi 7% per tahun. Selain menjadi program pro wirausahawan karena berbunga rendah, baik akses KUR maupun LPDB-KUMKM tentu akan menjadi alternmatif pilihan yang menarik sekaligus mempermudah pengurus koperasi untuk mendapatkan dana segar yang dapat digunakan untuk menjalankan berbagai program koperasi.

3.     Melakukan Pengembangan SDM melalui Berbagai Program Pendampingan

Galeri PLUT DIY (Dokumentasi Pribadi)
Selain menggandeng professional muda sebagai pendamping koperasi untuk membantu mengembangkan SDM anggota koperasi, Kementrian Koperasi dan UKM Republik Indonesia juga mendirikan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. 

Galeri PLUT DIY (Dokumentasi Pribadi)
Dengan visi utama memampukan Koperasi dan UMKM dalam membangun potensi unggulan daerah, pendirian PLUT juga dilengkapi dengan pembangunan gedung yang berfungsi sebagai galeri pamer, ruang pustaka entrepereur hingga ruang konsultasi bisnis dengan tenaga ahli. Selain dapat menjadi alternatif konsultan bisnis bagi KUMKM, PLUT juga menyediakan layanan pendampingan bisnis, layanan fasilitasi akses pembiayaan, layanan pelatihan bisnis hingga layanan yang berkaitan dengan pemasaran, promosi hingga networking.

Diklat untuk Koperasi oleh Kemenkopukm (Dokumentasi Pribadi)
Sekian banyak benefit yang disediakan PLUT ini dapat diakses secara cuma-cuma oleh Mitra PLUT, sebutan untuk koperasi maupun pelaku UKM yang mendaftar sebagai anggota PLUT di daerah. Menariknya, pendaftaran menjadi Mitra PLUT ini tidak dipungut biaya sepeserpun. Tinggal penuhi saja syarat adminitrasi yang dapat ditanyakan di kantor PLUT terdekat di kota Anda. Hal ini tentu sangat membantu anggota koperasi maupun pelaku UKM untuk mengembangkan bisnis di era milenial seperti saat ini. Selain itu pemerintah melalui Kementrian Koperasi dan UKM Republik Indonesia juga rutin menggelar diklat secara berkala yang dapat diikuti secara cuma-cuma oleh anggota koperasi maupun pelaku UKM. Jaya selalu koperasi Indonesia!

Salam hangat dari Jogja,
-Retno Septyorini-

Note: Penulis pernah tergabung sebagai spesialis media program IKKON BEKRAF 2017.

Sumber:
Ariyanti, F. Pemerintah Targetkan 3000 Koperasi Baru di Tahun 2018, diakses dari https://www.liputan6.com/bisnis/read/3216271/pemerintah-targetkan-3000-koperasi-baru-terbentuk-di-2018

Infografis Reformasi Koperasi oleh Kementrian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, 2018, diakses dari http://www.depkes.go.id/article/view/17071400001/koperasi-jadi-institusi-ekonomi-rakyat-di-masa-depan.html

Kusuma, H. 2017. Bunga KUR Turun Jadi 7% Tahun Depan, 2017 diakses dari https://finance.detik.com/moneter/d-3702695/bunga-kur-turun-jadi-7-tahun-depan

Rahayu, N. 2017. LPDB Turunkan Suku Bunga Pinjaman Jadi 7%, diakses dari https://www.wartaekonomi.co.id/read141521/lpdb-turunkan-suku-bunga-pinjaman-jadi-7.html

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Karya Tulis Koperasi dan KUKM 
Kategori Blogger 2018


0 komentar:

Posting Komentar

 

Cerita NOLNIL Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates