Minggu, 31 Juli 2016

Cerita Tentang Lebaran, Takbiran dan Haru Birunya Perjalanan Liburan Bersama Para "Kesayangan"

Setiap orang memiliki kisah tersendiri baik saat bersiap menyambut hari yang fitri. Kalau sebagian orang ada yang memulai cerita lebaran dengan kisah heroik seperti “ronda” sekian malam demi mendapat promo tiket impian, namun ada pula yang memulai perjuangan menyambut lebaran dengan berjibaku di depan tungku. Nah kalau cerita lebaran saya sih dimulai dari poin kedua. Gimana serunya? Yuk simak bersama!

Ketupat Lebaran (dokumentasi pribadi)

Karena tak kenal maka tak sayang, ijinkan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu ya. Nama saya Retno, BPers dari Jogja, Bantul tepatnya^^ Cerita ceria lebaran yang ingin saya bagikan kali ini dimulai dari cerita dapur nenek dengan segala keriwehannya. Let’s see my funny storyBep bep, bep bep, 1 2 3, go!

Karena masih single (*uhuk) dan masih bekerja di Jogja, maka masih nebenglah saya di rumah orang tua. Kebetulan rumah ortu ada di depan rumah nenek. Nenek yang akan saya ceritakan ini merupakan satu-satunya eyang saya yang masih sugeng (baca: masih hidup) hingga saat ini. Meski sudah sendiri, namun nenek tidak ikut salah satu dari ke-7 putera-puterinya. Nenek lebih betah dan nyaman tinggal di rumahnya sendiri, yang dikenal luas dengan sebutan rumah tabon.
Nenek (dokumentasi pribadi)
Meski rumah aslinya roboh akibat gempa, namun kenangan akan berbagai moment dengan para kesayangan mungkin terlalu sukar untuk nenek lupakan. Jadi tinggal sendiri bukan semata-mata karena ego belaka, mungkin lebih dengan cara ini nenek jauh lebih bahagia. Teruuuuus, apa hubungannya dengan moment cerita ceria lebaran sih Nok? Oke mari kita mulai. Kali ini beneran dimulai^^

Dimulai dari Dapur Nenek dengan Segala Keriwehannya
Lebaran di rumah saya selalu identik dengan ketupat. Dan meski jumlah anggota keluarganya cuma empat, namun ketupat yang dibikin di rumah biasanya mencapai kepala empat. Begitu pula untuk tahun ini. Ibu bikin ketupat sebanyak 40 buah. Oiya, nggak perlu tanya kenapa kan?^^

Ada yang berbeda dengan kebiasaan hunting ketupat lebaran tahun ini. Biasanya ibu pesan sehari sebelum lebaran, namun kali ini ibu sudah mendapatkan klongsongan ketupat di H-2 lebaran. Nah di rumah saya, kalau masak ketupat itu nggak pakai kompor gas, tapi pakai tungku. Selain lebih hemat, memasak dengan tungku membuat ketupat menjadi benar-benar tanak alias masak sehingga bisa bertahan hingga beberapa hari.

Begitu pula dengan nenek dan budhe saya. Mereka juga memasak ketupat dengan cara serupa. Bedanya, tahun ini simbah sendiri. Tidak ada yang mudik sebelum lebaran. Ada yang berhalangan karena ada tugas, ada pula yang sedang mengurus anggoa keluarga yang sedang sakit. Maka masakan nenek kali ini hanya dinikmati nenek dan keluarga salah satu om saya yang tidak bisa memasak banyak karena sedang mengurus bayi.
Ketupat Nenek (dokumentasi pribadi)
Saat masih muda, masakan nenek dikenal sangat enak. Tidak jarang tetangga menceritakan hal ini pada anggota keluarga saya.  Dan alhamdulillahnya, gift “tangan koki” ini menurun pada ibu. Karena kelihaian tangan ibu inilah meski kami hanya beranggotakan 4 orang saja, namun kami mampu menjelma menjadi keluarga besar dalam artian yang sebenar-benarnya, hoho. Karena lebaran kemarin keluarga om sedang repot, maka ditugasilah saya untuk mengantarkan kreasi masakan nenek ke rumah om. 

Setelah membantu keperluan ibu di dapur, saya pun langsung melenggang ke rumah nenek. Jadilah saya wira-wiri ke sana kemari untuk sekedar membantu ini itu dan membungkus masakan andalan nenek. Di sinilah letak kelucuan moment lebaran saya dimulai.

Rasa-rasanya masih terekam jelas bagaimana lepasnya tawa nenek saat saya datang ke dapurnya yang kala itu dipenuhi asap dari dalam tungku. 

“Non, aku masak iwake lali ra nganggo brambang!”, ucapnya dengan raut muka penuh tawa.

Translatenya kira-kira begini: “Non, tadi pas masak ayam nenek lupa nggak masukin bawang merah nih!”, ucapnya sembari tertawa.

Lha terus?”, tanyaku dengan nada serius sembari melihat ayam goreng yang telah diangkat dari wajan. 

Yo kari dibyuk’i uyah! (ya tinggal ditambahi dosis garamnya!)”, jawab nenek masih dengan posisi tertawa. Kali ini tawanya lebih lepas.

Dan benar adanya. Tidak ada satupun irisan bawang merah yang saya temui. Di moment ini saya ikutan ketawa sembari memikirkan bagaimana rasa si ayam goreng tanpa kehadiran potongan bawang merah tadi. Ini penampakan ayam gorengnya^^ 
Penampakan Si Ayam Goreng Tanpa Bawang Merah (dokumentasi pribadi)
Ternyata ayam goreng nenek masih berada dalam taraf enak kok. Nggak keliatan juga kalau dibumbui tanpa bawang merah. Padahal, di resep masakan keluarga kami, bawang merah menjadi salah satu bumbu krusial saat memasak ayam. Tapi berkat garam, toh masakan ayamnya bisa terselamatkan. Jadi tips pertama saat memasak tidak lain tidak bukan adalah hilangkan segala bentuk kepanikan, meski saat memasak Anda telah melakukan satu atau dua kesalahan. 

Lanjut boleh ya? Bahwa memasak semata-mata tidak hanya memerlukan kesabaran, tapi kadang juga butuh "akal-akalan". Kalau lupa kasih bumbu ini, ya kali rasanya bisa ditolong dengan bumbu yang itu. Istilah kerennya experimental science gitu, hehehe. Ini tips kedua ya^^

Selain masak ayam, nenek juga masak sayur krecek. Tahu kan ya masakan yang saya maksud? Sayur bersantan dengan ulekan cabai merah yang berisi irisan tempe dan krecek itu lho! Setelah lulus dari aneka keriwehan mulai dari tolong daun salamnya, tolong bawain air untuk meres santan dan berbagai hal remeh-temeh lainnya, akhirnya kelas memasak bersama nenek berakhir juga.

Oiya kalau di desa santannya dibuat secara manual ya. Marut kelapa sendiri, peras pakai kalo (kalo adalah saringan yang terbuat dari rajutan bambu) sendiri dan yang terpenting, proses memerasnya pun harus super duper sabar. Tanya kenapa? Karena saat memeras santan airnya harus dituang sedikit demi sedikit. Hal ini dilakukan agar santan yang dihasilkan benar-benar kental. Karena itulah mengikuti kelas memasak semacam ini selalu memakan waktu yang cukup lama , apalagi jika masaknya bareng nenek 79 tahun (*kibas jilbab).

Setelah selesai, masuklah saya ke rumah sebelah, rumah tempat tinggal nenek. Oh, maaf saya lupa cerita kalau dapur yang digunakan untuk memasak dengan tungku ini merupakan rumah pertama yang dibangun simbah usai gempa. Rumah ini kini dialih fungsikan sebagai “dapur darurat” dan gudag. Kenapa darurat? Karena tempat ini hanya digunakan sesekali saja. Tepatnya saat harus memasak agak banyak dan yang harus dimasak menggunakan tungku. Kalau untuk memasak sehari-hari, nenek tidak menggunakan tungku, melainkan menggunakan kompor listrik.

Setelah wira-wiri kesana kemari, akhirnya sampailah saya di adegan pamungkas episode masak-masakan menjelang lebaran kali ini. Saat membuka wajan untuk mengambil sayur krecek, voila, kagetlah saya mendapati bahwa kuah sayur ini telah habis merasuk ke dalam krecek. Maka menjelmalah sayur santan berwarna merah ini menjadi sayur krecek tanpa kuah. Karena tidak kuat dengan pemandangan yang ada, maka lepas pula tawa saya. Dan saat nenek melihatnya, tumpahlah tawa kami berdua. Walhasil, inilah penampakan sayur tersebut. Maaf ya fotonya blur, soalnya pas ambil foto tangganya gemetar mulu^^

Sayur Legendaris Nenek (dokumentasi pribadi)
Agar terlihat normal, maka krecek kreasi nenek diberi kuah sayur krecek bikinan ibu. Jadi tips ketiganya: kalau lagi masak nggak usah spaneng dan kaku ya, let it flow aja. Nanti kalau ada kejadian serupa, bisa minta atau beli kuah di tetangga, hahahaha. Sampai saat ini pun saya nggak yakin kalau om sama tante tahu cerita dibalik sayur krecek ini^^

Berlanjut dengan Lomba Takbiran
Cerita lebaran saya selanjutnya berkaitan dengan lomba takbiran yang setiap tahunnya diadakan di tempat tinggal saya. Lomba takbiran ini tidak hanya untuk anak-anak dan remaja saja, tapi ada juga lomba takbiran khusus untuk ibu-ibu. Selain dikelompokkan dalam Rukun Tetangga atau RT, tempat tinggal saya juga dikelompokkan berdasarkan letaknya yaitu kawasan utara, tengah dan selatan. Nah, tempat tinggal saya masuk di kawasan selatan.

Tahun ini semangat ibu-ibu tergolong cukup menggebu untuk mengikuti lomba takbiran. Sejak siang, ada pengurus yang datang meminjam baju seragam dan hijab yang akan digunakan untuk lomba. Selain itu panitia juga mempersiapkan hiasan untuk obor yang akan digunakan dalam lomba takbiran. Pokoknya meriah! 

Setelah sorenya ikut bantu-bantu bungkus snack untuk konsumsi waktu takbiran, akhirnya malam yang ditunggu pun tiba. Berikut petikan keseruannya:

Miniatur Al-Qur'an Raksasa Karya Muda Mudi di Tempat Tinggal Saya (dokumentasi pribadi)

Salah Satu Peserta Lomba Takbiran 2016,(dokumentasi pribadi)
Note: Perahatikan Riasan Wajahnya! Keren lho! ^^
Kesecriaan Ibu-Ibu Mengikuti Lomba Takbiran 2016 (dokumentasi pribadi)

Berkumpul Bersama Handai Taulan
Paginya, usai sholat ied, kami pun berkumpul bersama keluarga besar, tidak terkecuali dengan ponakan-ponakan yang super unyu. Selain itu, usai sholai ied para tetangga juga saling berkunjung untuk sungkeman dan silaturahmi. Berikut beberapa moment ceria kumpul lebaran saya tahun ini:

Nenek Bersama Anak, Menantu dan Para Cucu (dokumentasi pribadi)
Bersama Adek dan Ponakan yang Dibilang Mirip (dokumentasi pribadi)
Sama Adek (dokumentasi pribadi)
Serunya Jalan-jalan Bersama Teman-Teman
Libur lebaran saya tahun ini juga diramaikan dengan acara jalan-jalan. Kali ini saya mengajak tiga sahabat saya (Riska, Bekti dan Mur) untuk menyusuri salah satu wisata alam di Jogja. Laut Bekah namanya. Laut Bekah merupakan salah satu laut indah berada di kabupaten Gunungkidul. Meski panorama alamnya terbilang sangat cantik dan disebut-sebut sebagai Uluwatunya Jogja, namun tempat ini belum terlalu populer dalam kancah pariwisata di kawasan Jogja. 

Mungkin salah satu alasannya disebabkan karena akses jalan yang belum terlalu bagus. Wisatawan yang berencana menikmati keindahan Laut Bekah harus melewati jalan berbatu sepanjang beberapa kilometer. Karena tempat tinggal saya di Bantul, maka meluncurlah kami melalui jalan lingkar selatan yang bisa diakses dari Jalan Parangtritis.

Nanti di ujung Jalan Parangtritis ada jalan naik, nah jalur  lingkar selatan dapat diakses dari jalan naik ini. Pokoknya dari jalan ini tinggal ikuti jalan yang ada sampai menemukan pertigaan besar yang di salah satu jalannya ada Sekolah Dasarnya. Kalau saudah sampai di sini, saya ambil jalan yang ke kanan yang menuju ke arah Giricahyo. Kebetulan kawasan Giricahyo merupakan daerah penempatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya sewaktu kuliah dulu. Dari jalur lingkar selatan ini nanti ada papan penunjuk jalan menuju ke Laut Bekah.

Papan Penunjuk Jalan ke Laut Bekah dari Jalur Lingkar Selatan Gunungkidul - Jogja (dokumentasi pribadi)
Selanjutnya tinggal ikuti papan penunjuk jalan saja. Oiya, kalau mau ke sini, pastikan kendaraan Anda berada dalam kondisi yang prima ya! Begitu pula dengan pengendaranya. Soalnya jalan menuju Laut Bekah masih berbatu dengan medan khas pegunungan yang naik turun. Sekitar 45 menit kemudian, akhirnya sampai juga kami di laut indah ini. Berikut penggalan keseruannya:

Papan Penunjuk Jalan ke Laut Bekah (dokumentasi pribadi)
Akses Jalan Menuju Laut Bekah 9dokumentasi pribadi)
Laut Bekah bukanlah laut atau pantai berpasir seperti pantai-pantai pada umumnya, dimana kita bisa bermain air ataupun pasir pantainya. Laut Bekah merupakan tebing yang menyuguhkan keindahan Pantai Selatan Jawa. Tebing di sini diberi pagar dengan bebatuan dan semen. Kalau foto yang ini merupakan spot terbaik untuk berfoto di Laut Bekah. Konon katanya, tempat ini merupakan tebing tertinggi di kawasan Gunungkidul. Jadi dari sini Anda dapat melihat berbagai tebing pantai lain, persis seperti yang tergambar di sisi kiri belakang saya berikut ini:

Spot Berfoto Terbaik di Laut Bekah (dokumentasi pribadi)
Another pose^^
Keindahan Laut Bekah (dokumentasi pribadi)
Oiya, saya mau cerita sedikit nih tentang dua sahabat saya ini. Yang kiri namanya Bekti dan yang kanan namanya Riska. Bekti adalah teman kecil saya, namun di pertengahan saat duduk di bangku sekolah dasar ia pindah ke Bandung. Usai libur lebaran tahun ini Bekti menyusul suaminya ke Australia. Sedangkan Riska adalah teman kuliah saya. Sama halnya dengan Bekti, Senin depan Riska akan pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi S2. Jadi ini semacam acara jalan-jalan sekaligus perpisahan sementara kami -_-

Dari Laut Bekah, kami melanjutkan perjalanan ke salah deretan pantai cantik lainnya yang berada di kawasan Gunungkidul yaitu Deretan Pantai Baron. Jadi di deretan Pantai Baron Anda dapat menemukan beberapa pantai lain yang jaraknya berdekatan seperti Pantai Krakal, Pantai Kukup, Pantai Sadeng, Pantai Sepanjang dan Pantai Sundak. Saat itu kami memilih untuk berkunjung di Pantai Baron terlebih dahulu. Pantai Baron merupakan pantai terdekat dari jalan raya. 

Nunggu Pesanan Lotis di Pantai Baron (dokumentasi pribadi)
Meski menawarkan view pantai yang lebih kecil dari pantai lainnya, namun saat weekend, Pantai Baronmerupakan pantai yang paling ramai dikunjungi. Selain karena lokasi yang paling dekat dengan jalan raya dan memiliki fasilitas parkir yang sangat luas, Pantai Baron juga menjadi sentra oleh-oleh yang paling lengkap. Berbagai komoditi laut siap "hap" seperti beragan jenis ikan goreng, udang goreng, aneka keripik hingga rumput laut goreng (keripik umput laut) ada di sini. Selain itu Pantai Baron juga menyediakan berbagai jenis buah tangan lainnya, seperti baju bertuliskan nama pantai, topi hingga berbagai pernik yang dibuat dari rumah kerang ataupun keong seperti bros, kaca hingga hiasan pintu.

Kalau sudah sampai di Pantai Baron, jangan lupa untuk mengecek cadangan bensin kendaraan Anda ya! Apalagi jika Anda memakai kendaraan roda dua yang cadangan bensinnya hanya sekian liter saja. Setelah mengambil foto serta membeli rujak dan keripik rumput laut di Pantai Baron, kami melanjutkan perjalanan  ke Pantai Sundak, pantai terjauh yang terletak di deretan Pantai Baron.
Menjelang Senja di Pantai Sundak (dokumentasi pibadi)
Selain dapat berfoto dengan latar suasana pantai, ada spot foto baru nan unyu di Pantai Sundak yaitu foto berlatar hiasan cinta seperti yang terlihat di foto. Karena sudah kesorean, kami tidak sempat tanya berapa harga sewa untuk mengambil foto di depan tanda "lope-lope" tersebut.

Menjelang Senja di Pantai Sundak (dokumentasi pribadi)
Suasana Pantai Sundak terbilang jauh lebih sepi, cocok untuk istirahat usai perjalanan panjang. Sebelum magrib, akhirnya kami pulang ke Jogja melalui jalan lingkar selatan sesuai rute keberangkatan yang tadi kami lalui. Sayangnya dalam perjalanan pulang kali ini, saya dan Bekti diwarnai dengan acara nyasar dan terpisah dari Riska dan Murti. Waktu itu rasanya bener-bener takut setengah mati. Sudah jalan gelap semua, nggak ketemu orang seperjalanan pula! Belum lagi persediaan bensin saya sudah di tengah angka merah! Rasanya bener-bener pengen nangis -_- 

Dengan segala doa, perjuangan melawan takut dan tanya sana-sini, akhirnya saya menemukan penjual bensin yang masih buka. Dua jam kemudian akhirnya kami berempat dapat selamat dan bertemu kembali di Bantul. Seneng banget deh rasanya! 

Pesan moral dalam perjalanan kali ini: jangan lupa bikin itinerary sebelum pergi, bahkan saat berencana jalan-jalan di dalam kota tempat tinggal sekalipun. Kalau Anda berniat melakukan one day beach trip di Gunungkidul, tepatnya di deretan Pantai Baron, mulailah perjalanan di pagi hari. Kalau pulangnya kesorean, lebih baik lewat jalan kota (Jalan Wonosari) saja. Tidak direkomendasikan melalui jalur lintas selatan seperti rute perjalanan saya tadi. Kenapa? Karena sepanjang jalan dari pantai Anda harus melewati area hutan yang sangat luas dan gelap. Bagaimana dengan keseruan dan haru birunya cerita lebaran Anda? Share di sini ya^^

Salam hangat dari Jogja,
-Retno-


Cerita ini diikutkan dalam Blogging Competition Cerita Lebaran Asyik yang diadakan oleh Blogger Perempuan dan Diaryhijaber.

Banner Blogging Competition Cerita Lebaran Asyik (sumber: bloggerperempuan.com)
Oiya, buat muslim yang ada di Jakarta dan sekitarnya, jangan lewatkan untuk mendukung Hari Hijaber Nasional yang jatuh pada tanggal 7 Agustus 2016 mendatang. Gimana caranya? Datang saja ke upcoming event dari Diaryhijaber yaitu Hari Hijaber Nasional:

Nama Acara: Hari Hijaber Nasional,
Tanggal: 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
Tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat

Jangan lupa catat tanggalnya ya! Biar makin seru, ajak juga keluarga, kerabat maupun sahabat Anda! 

Hari Hijaber Nasional (sumber: bloggerperempuan.com)

1 komentar:

  1. VIPQIUQIU99.COM AGEN JUDI DOMINO ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA

    Kami VIPQIUQIU99 AGEN JUDI DOMINO ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA mengadakan SEO Kontes atau Kontes SEO yang akan di mulai pada tanggal 20 Januari 2017 - 20 Mei 2017, dengan Total Hadiah Rp. 35.000.000,- Ikuti dan Daftarkan diri Anda untuk memenangkan dan ikut menguji kemampuan SEO Anda. Siapkan website terbaik Anda untuk mengikuti kontes ini. Buktikan bahwa Anda adalah Ahli SEO disini. Saat yang tepat untuk mengetest kemampuan SEOAnda dengan tidak sia-sia, hadiah kontes ini adalah Rp 35.000.000,-

    Tunggu apa lagi?
    Kontes SEO ini akan menggunaka kata kunci (Keyword) VIPQIUQIU99.COM AGEN JUDI DOMINO ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA Jika Anda cukup percaya akan kemampuan SEO Anda, silahkan daftarkan web terbaik Anda SEKARANG JUGA! Dan menangkan hadiah pertama Rp. 10.000.000. Keputusan untuk Pemenang Akan di tentukan dengan aturan kontes SEO yang dapat dilihat di halaman ini.

    Tunggu apa lagi? Ikuti kontes ini sekarang juga!

    CONTACT US
    - Phone : 85570931456
    - PIN BB : 2B48B175
    - SKYPE : VIPQIUQIU99
    - FACEBOOK: VIPQIUQIU99

    BalasHapus

 

Cerita NOLNIL Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates