Senin, 14 Desember 2020

Melawan Kekerasan Berbasis Gender

Foto Sewaktu Kecil


Sewaktu kecil saya memiliki perawakan yang cukup berbeda dengan teman sebaya saya. Satu yang paling menonjol tampak pada rambut kriting saya yang tumbuhnya tidak jatuh ke bawah, melainkan melebar ke samping, persis seperti pertumbuhan sayur brokoli. Sebuah penampilan yang di era 90-an terbilang berbeda dengan teman-teman sebaya.

Sebenarnya perbedaan ini tidak pernah menjadi persoalan yang berarti, hingga suatu pagi saya mulai mengalami bullying yang dilakukan oleh teman SD yang kebetulan satu SMP dengan saya. Karena saya masuk kelas kecil yang kebetulan berada di lantai dua, setiap hari saya harus melewati kelas kawan saya itu. Alhasil setiap kali papasan, ia dan teman-temannya selalu menyoraki saya dengan salah satu jingle mie instan ternama. Meski merasa terganggu, namun karena ia tidak melakukan kekerasan fisik, saya memilih untuk diam.

Tidak disangka, teman perempuan saya, sebut saja Nina (bukan nama sebenarnya) mengalami hal serupa. Parahnya, selain dibully secara psikis, waktu itu ia juga mengalami perundungan secara fisik. Saya ingat betul selain diolok-olok dengan sebutan cakwe, jilbab Nina juga sempat ditarik sampai lepas dari kepala. Kabar baiknya, Nina mengambil sikap yang bertolak belakang dengan sikap saya. Meski ditertawakan, ia memilih untuk melawan.

Meski waktu itu saya tidak berani membantu, namun saya salut sekali dengan sikap Nina. Sejak saat itu, saya berjanji dalam hati untuk melindungi diri sendiri dengan lebih baik lagi. Dan hal pertama yang saya lakukan adalah memilih outfit yang nyaman untuk dikenakan. Jika sewaktu-waktu ada yang berniat berbuat jahat, minimal pilihan berbusana saya memudahkan untuk melawan ataupun lari untuk meminta pertolongan.

Sayangnya pakaian yang nyaman dan sopan dikenakan sesuai adat ketimuran ternyata tidak menjamin seseorang terhindar dari kekerasan berbasis gender. Delapan belas tahun yang lalu, tepatnya saat saya hendak menjenguk saudara di kabupaten sebelah, saya mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh sesama penumpang bus. Sialnya pelaku adalah suami dari seorang ibu yang barusan saya tolong.

Merasa kasihan dengan seorang ibu yang tengah menggendong bayi, saya reflek untuk memberikan tempat duduk saya pada beliau. Tak disangka, penumpang lain yang sepertinya suami ibu tersebut malah menggesek-nggesekkan kemaluannya di belakang saya. Awalnya saya mengira hal ini terjadi atas dasar ketidaksengajaan. Ternyata kelakuan bejat ini dilakukan berulang.

Tentu saja selain menghindar, saya juga memelototi pelaku. Saya tidak mau pura-pura tidak tahu meski dalam hati terbersit rasa takut. Setelah berhasil menghindar, ia berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Tak lama berselang ternyata ia dan ibu yang menggendong anak turun dari bis. Karena kemarahan saya sudah memuncak, dengan lantang saya maki pelaku hingga ibu (yang kemungkinan besar adalah istrinya) itu terlihat kaget.

Webinar Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud RI

Puluhan tahun berselang, ternyata kekerasan berbasis gender masih menjadi masalah yang membayangi negeri ini. Rasa malu dan kondisi ekonomi korban, ditambah dengan rendahnya kesadaran hukum dan kuatnya budaya patriarki menjadi penyebab maraknya kekerasan berbasis gender. Guna memberi edukasi sekaligus meminimalisir tindakan kekerasan berbasis gender, pemerintah melalui Pusat Penguatan Karakter kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyelenggarakan Webinar dengan tema “Anti Kekerasan Berbasis Gender” dan “Kampus Merdeka dari Kekerasan Berbasis Gender”.

Saya sepakat dengan berbagai narasumber yang dihadirkan dalam webinar ini. Bahwa kekerasan berbasis gender harus kita lawan mulai dari sekarang. Dari jaga, lindungi dan edukasi diri sendiri, semoga dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang ada di sekeliling kita.

Salam hangat dari Jogja,

Retno


#CerdasBerkarakter #BlogBerkarakter #AksiNyataKita #LawanKekerasanBerbasisGender #BantuKorbanKekerasan

Kamis, 08 Oktober 2020

Review Film Boncengan: Edukasi Kejujuran dari Sekolah Dasar

 


Menonton Film Boncengan mau tak mau mengingatkan saya pada salah satu moment menggelikan semasa sekolah dasar (SD) yang ceritanya sebelas dua belas dengan Amin. Salah satu tokoh utama pada film berdurasi 16 menit garapan sutradara Senoaji Julius ini. Film Boncengan sendiri bercerita tentang lomba lari di sebuah sekolah dengan hadiah utama berupa sepeda. 

***

Sewaktu SD saya punya teman, sebut saja Delima (bukan nama sebenarnya). Di hari-hari biasa Delima jarang memperlihatkan tanda-tanda anak yang antusias saat mempelajari hal baru. Selain tidak aktif di kelas, nilai hariannya pun terbilang pas-pasan. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan nilai tes hasil belajar (THB) yang acap kali masuk peringkat enam besar di tingkat sekolah.

Karena terjadi berulang kali, pola nilai Delima akhirnya dihafali tak hanya oleh bapak atau ibu guru, tapi juga oleh teman-teman di kelas. Hingga suatu hari terkuak berita bahwa ada kerabat dekat Delima yang berkantor di sebuah sekolah. Tak ayal, “katrolan” nilai THB Delima pun langsung dihubung-hubungkan dengan profesi kerabat kawan saya itu. Sampai-sampai ada celetukan perihal prediksi nilai Delima segala.

“Lihat saja, nilai bagusnya paling mentok sampai THB terakhir!”, begitu kira-kira prediksi yang berdar waktu itu.

Apesnya, prediksi ini benar-benar terjadi. Saat pengumuman hasil UAN, nilai Delima kembali pas-pasan seperti sedia kala. Kalau boleh ditarik benang merah, cerita kawan saya tersebut hampir mirip dengan kisah Amin. Salah satu peserta lomba lari dalam Film Boncengan yang hampir menyabet gelar juara, sesaat setelah gelar juara tersebut dicabut dari Yua. 

Nuansa komedi yang kocak namun sarat makna menjadi poin plus film garapan Senoaji ini. Satu diantaranya terletak pada scene sampainya aksi curang peserta lomba ke telinga kepala sekolah. Berbagai kecurangan tersebut tersampaikan dengan cara yang mudah dimengerti sekaligus mengundang gelak tawa peserta, juga pemirsa. Adegan nylonongnya Ndut ke podium untuk mencoba sepeda menjadi awal mula terkuaknya kecurangan demi kecurangan yang terjadi pada lomba "besar" ini.

Di sisi lain ada Amin. Kandidat juara pengganti Yua yang merupakan pemenang pertama lomba periode sebelumnya. Tak berbeda dengan Yua, guna memenangkan lomba, Amin juga melakukan serupa. Bedanya, paksaan mbonceng yang dialami Amin disodorkan oleh bapaknya sendiri. Sebuah penggambaran sederhana yang menggambarkan ambisi pribadi orang tua tanpa memperhatikan psikologi anak.

Padahal Amin sempat melakukan penolakan dengan sikap enggan mbonceng motor bapaknya. Sayangnya penolakan yang sempat dilontarkan Amin dalam salah satu scene seolah tidak sebanding dengan ambisi juara yang begitu diidamkan orang tua. Hal ini begitu terlihat tatkala bapak Amin yang bersorak begitu riang usai mendengar pengumuman juara akhirnya jatuh pada anak laki-lakinya. Apesnya moment bahagia ini seketika ambyar usai pelaporan yang dilakukan oleh teman-teman Amin. 

***

Bisa jadi puluhan tahun silam hal ini dialami oleh Delima. Kawan sekolah yang sempat saya tulis di awal cerita. Tidak menutup kemungkinan pula hal semacam ini masih sering terjadi di sekitar kita. Maklum saja, embel-embel juara masih menjadi pembuka obrolan sebagian orang tua. Padahal masa depan anak tidak hanya bergantung dari titel juara semata. Seiring perubahan jaman, berbagai keahlian mutlak diperlukan untuk meraih masa depan. Ini belum menyoal perihal karakter anak begitu mudah mencontoh perilaku orang tua. 

Kuatnya pesan moral yang disampaikan dengan jenaka pada Film Boncengan dapat menjadi alternatif edukasi dalam medium yang menyenangkan. Di tambah lagi tujuh bulan terakhir anak-anak sedang menjalani kegiatan belajar dari rumah saja. Peran keluarga tentu sangat menentukan keberhasilan pembangunan karakter  generasi penerus bangsa, utamanya perihal kejujuran yang kian hari harganya kian meroket saja [Retno].

Senin, 07 September 2020

Kebangkitan Energi Terbarukan dari Pelosok Indonesia

 


Di Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, sampah organik yang dihasilkan warga tidak dibuang begitu saja. Berkat sinergi dengan berbagai pihak, keduanya mampu diolah menjadi sumber energi terbarukan yang ujung manfaatnya dinikmati kembali oleh warga sekitar. Berbekal mesin methagreen, sampah organik non nasi dari kawasan ini berhasil diolah menjadi tiga produk sekaligus, yakni pupuk cair, pupuk padat dan biogas. Inovasi-inovasi semacam inilah yang membuat Langgongsari menjadi selangkah lebih dekat menuju desa mandiri energi.

***

Sabtu, 28 September 2019

Menyelamatkan Ibu Pertiwi Melalui Budaya Anti Korupsi Sejak Dini

Salah Satu Harapan untuk KPK

“Meski saat ini Indonesia masih dikenal sebagai salah satu lahan basah tindak pidana korupsi, pendidikan anti korupsi tentu tidak boleh mati. Apapun alasannya, mengenalkan budaya anti korupsi sejak dini adalah bentuk investasi untuk menyelamatkan ibu pertiwi di kemudian hari”.

***

“Uangnya di meja ya Mbak Lima (bukan nama sebenarnya)”, jawab ibu tatkala ditanya letak uang untuk beli kentang dan berbagai kebutuhan lain yang diperlukan untuk acara supitan adik saya.

Walah, uang di meja kok tidak hilang. Kalau di rumahku pasti sudah hilang”, ujar Mbak Lima dengan raut muka sedikit keheranan.

Waktu itu ibu melempar senyum seraya berkata: “Kalau di sini bisa dipastikan keamanannya. Kalau bukan kepunyaannya, insyaallah tidak akan disentuh sama anak-anak. Apalagi sama bapaknya”.

“Kalau sedang butuh, pasti mereka akan minta ke saya. Kalau pas lagi ada ya langsung dikasih, kalau belum ada ya diberi pengertian dulu”. Begitu kira-kira percakapan lawas yang entah mengapa kembali teringang di benak saya.

Senin, 03 September 2018

Dukung Bersama Asian Games Kita, Demi Anak Cucu, Demi Indonesia Maju


Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Berfoto Bersama Atlet Peraih Medali di Ajang Asian Games 2018
Dokumentasi Sekretariat Kabinet
Kebanggaan saya sebagai warga negara Indonesia sekaligus sebagai bagian dari tuan rumah ajang olahraga paling bergengsi di Asia, Asian Games 2018 begitu terasa tatkala melihat ribuan penari berjajar rapi pada pembukaan Asian Games kali ini.

Ada desir bahagia yang membuncah di dada bahkan sejak detik pertama musik Tari Ratoh Jaroe ditampilkan pada pembukaan Asian Games kali ini. Tak lama kemudian, lagu ucapan selamat datang pun bergemuruh di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang diikuti dengan riuh gembira penonton yang menyaksikannya .

Salamualaikum kami ucapkan,
Para undangan yang baro teuka,
Karena saleum nabi kheun sunnah,
Jaroe ta mumat tanda mulia….


Selasa, 14 Agustus 2018

Peran Penting Keluarga Sebagai Pengontrol Pendidikan Anak di Era Modern

Makan Siang Bersama Buah Hati (dokumentasi pribadi)
Apapun perubahan maupun fenomena yang terjadi saat ini, peran keluarga dalam mengontrol pendidikan anak tidak akan tergantikan.

Tantangan Pendidikan di Era Kekinian
Tantangan pendidikan selalu berubah seiring dengan perkembangan jaman. Kalau dulu transfer ilmu umumnya bersumber dari keluarga, buku ataupun guru, kini seiring perkembangan jaman, siapa saja bisa menyebarkan pengetahuan.

Sabtu, 23 Juni 2018

Koperasi Milenial di Era Digital

KUD Tani Makmur (Dokumentasi Pribadi)
Foto di atas merupakan bagian dalam salah satu Koperasi Unit Desa (KUD) yang berada tak jauh dari tempat tinggal saya. Kalau dulu KUD di tempat saya cukup identik sebagai tempat untuk membayar listrik, tempat menjual sembako ataupun tempat menjual beragam kebutuhan petani, kini KUD sudah berkembang sekaligus berbenah sedemikian rupa sehingga dapat diterima oleh generasi milenial yang hidup di era digital. 

Jumat, 22 Juni 2018

Menjaga Keutuhan NKRI Berawal Dari Kontrol Jari-Jemari

"Jemarimu, Harimau-mu" (Dokumentasi Riana Dewie)
“Sesungguhnya menjaga NKRI bisa dimulai dengan mengontrol jemari agar tidak mudah membagikan kabar buruk, ujaran kebencian maupun kabar bohong di kanal media sosial”.

Berawal dari rasa bosan ketika melihat timeline media sosial saya yang beberapa waktu ke belakang acap kali dipenuhi dengan gembar-gembor berita bohong maupun ujaran kebencian yang seolah tidak pernah lekang dimakan jaman, saya bertekad untuk melakukan hal sebaliknya, menyebarkan berita baik dari hal-hal kecil yang saya temui sehari-hari.

Ya, bagi saya menjaga keutuhan NKRI dapat dilakukan dari peristiwa-peristiwa sepele yang ditemui sehari-hari, dimana salah satunya saya temui saat berada di Bandara Syamsudin Noor tahun lalu. Ada banyak alasan mengapa perjalanan pulang dari Banjarmasin menuju Jogja pagi itu cukup sukar untuk dilupakan.

Senin, 04 Juni 2018

Treatment Penyelamat Rambut Kusut Yang Harga dan Kualitasnya Nggak Bikin Bad Mood

Retno Jalan-Jalan (Dokumentasi Pribadi)
“Enak ya kalau pakai hijab kaya kamu ini, Ret! Minimal tidak perlu pusing mikirin style rambut sehari-hari! Tinggal dikuncir, pakai hijab, beres! Nggak sisiran seminggu juga nggak bakalan ketahuan”, ujar kawan saya di suatu siang yang cukup terik. Akhir-akhir ini suhu di Jogja memang cukup tinggi. Mereka yang datang dari kota lain mengeluhkan hal serupa.

Waduh!”, reaksi saya seketika.

“Iya sih nggak kelihatan, tapi kalau sehari saja absen disisir itu bikin kusut yang ujungnya bikin rambut jadi rawan rontok saat disisir”, jawab saya datar.

Masak sih??!!”, sahutnya kemudian.

Seketika itu pula kami langsung berpandangan sejenak, lalu terbahak bersama. Namanya juga sama sohib sendiri. Kalau baru cerita masalah kehidupan, terkadang tertawa lepas menjadi pilihan pertama yang kami lakukan, baru cari solusi kemudian.

Kamis, 31 Mei 2018

PesonaRamadan2018 Terpikat Wadai Khas Kota Seribu Sungai


 
Ipau Khas Banjarmasin (Dokumentasi Pribadi)
“Lapisan putih itu beradu apik dengan potongan wortel, kentang, bawang bombay, juga cincangan daging berbumbu. Disela-sela mereka, hadir pula irisan daun bawang yang memperkaya aroma, juga rasa kudapan yang sengaja dimasak untuk kami. Awalnya sepotong wadai (baca: kue) berguyur santan ini saya kira kue lapis biasa, ternyata bukan. Konon wadai ini hanya muncul saat bulan Ramadan saja”.

Senin, 12 Februari 2018

Mengenal Tugas Badan "Pengawas" Keuangan Negara


Kantor BPK Yogyakarta (dokumentasi Pribadi)

 “Tiket pesawatnya jangan sampai hilang ya kawan-kawan. Setelah sampai di kota domisili, tolong segera dikirim ke rumah saya untuk kelengkapan administrasi tim. Sebagai cadangan data, sebelum terbang kawan-kawan bisa mengirimkan foto tiketnya dulu. Khusus untuk tiket keberangkatan bisa langsung diberikan saat sampai di mess”, begitu kira-kira himbauan yang saya terima dari manager tim kami saat menjadi bagian sebuah projek pemerintah pusat untuk membantu mengembangkan iklim ekonomi kreatif di salah satu kawasan di Pulau Kalimantan tahun lalu. 

Kamis, 25 Januari 2018

Menguak Potensi Sektor Pariwisata Kota Sungai Terindah di Indonesia



“Orang yang berkunjung atau bahkan tinggal ke Banjarmasin termasuk orang yang begitu beruntung!”, begitu kira-kira kesimpulan saya usai live in selama beberapa bulan dalam rangka pengembangan potensi sektor ekonomi kreatif di kawasan berjuluk kota seribu sungai ini. Kalau ditanya kenapa, saya akan menjawab dengan cukup santai, “Dimana lagi orang dapat menikmati peradaban sungai yang masih begitu asri selain di kota ini? Pun jika ada, rasa-rasanya tak ada kota lain di Indonesia yang wilayahnya dialiri hingga 102 sungai. Belum lagi warisan kanalnya tercatat dalam sejarah irigasi dunia, pun begitu terkenal hingga ke Benua Biru di Eropa sana”. Begitu kira-kira.

Peradaban Sungai yang Masih Begitu Asri di Banjarmasin (Dokumentasi Pribadi)


Selasa, 16 Januari 2018

Cara Mudah Mencintai Rupiah


Belanja dengan Rupiah (Dokumentasi Pribadi)
“Mbak, mau bayar hutang”, ucap Andri, rekan kerja saya di suatu siang.

“Maaf Mas, saya tidak menerima uang yang sudah lusuh”, jawab Mbak Diaz sesaat kemudian.

Mendengar jawaban ini, sontak saya dan beberapa kawan lainnya langsung mengalihkan pandangan pada keduanya.

Dih, gaya benar yang habis liburan dari luar negeri”, jawab Andri dengan nada cukup sinis, yang mungkin berbalut sedikit kejengkelan lantaran uangnya ditolak. Beberapa kawan lain pun ikutan mengejek Mbak Diaz karena menolak lembaran rupiah yang disodorkan Andri siang itu.

“Bedanya apa coba? Bukannya nominalnya sama saja?”, tambah Andri yang masih bingung dengan penolakan yang baru saja ia terima. Sebuah pertanyaan yang diam-diam juga saya ucapkan dalam hati.

“Kemarin pas aku liburan di luar, uangku kelipet dikit aja ditolak Mas. Sekarang aku mau menerapkan hal serupa pada rupiah”, jawabnya sembari tersenyum.

Minggu, 07 Januari 2018

Menguak Surga Tersembunyi di Kota Seribu Sungai



Bertemu Adik-Adik di SDN 10 Basirih Saat Akan Berangkat Menuju ke Sekolah (dokumentasi pribadi)

Selamat pagi dari Tanah Banua, sebuah kawasan indah nan mempesona yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dengan sebutan Banjarmasin ^^

Tahun 2017 lalu, saya berkesempatan live in selama dua bulan di Banjarmasin, sebuah kota yang dilintasi 102 dua sungai. Banyaknya perlintasan sungai di Banjarmasin membuat sebuah peradaban sungai yang begitu elok nan mempesona. Tak ayal banyak wisatawan yang tertarik untuk menikmati indahnya pesona peradaban sungai, memperdalam pengetahuan sosial ataupun ilmu ekologi bahkan ada pula yang memilih menghabiskan sisa waktunya di kota cantik ini.

Saking indahnya Tanah Banua kita ini Mbak Retno, sampai-sampai ada warga asing yang memilih untuk menghabiskan waktunya di Banjarmasin”, begitu kata Bapak Mukani, guide yang menemani tim kami pagi itu.


Minggu, 31 Desember 2017

Jelajah Bahagia Bersama Astra


Honda Astrea Grand yang diproduksi pada tahun 1997 ini merupakan sepeda motor pertama di keluarga kami. Disadari atau tidak, kendaraan roda dua berwarna hitam dengan corak kombinasi berwarna pink, ungu dan merah tua pada body bagian samping ini merupakan perantara ribuan moment bahagia keluarga kecil saya di Jogja sana. 

Senin, 04 Desember 2017

Cerita Penerbangan Pertama Bersama Traveloka


Jika ditanya apa yang pertama kali diingat seseorang ketika mendengar Banjarmasin, mungkin sebagian orang yang pernah menginjakkan kakinya di Tanah Banjar akan menjawab satu dari tiga ikon khas kota seribu sungai seperti sasirangan, patung bekantan raksasa ataupun Menara Pandang Siring Tendean. Maklum, ketiga ikon wisata tersebut terletak di lokasi yang cukup berdekatan. Kampung Sasirangan misalnya. Dari area Menara Pandang yang terletak di Jalan Kapten Tendean, sentra pembuatan kain sirang di Banjarmasin ini dapat dilaju dengan berjalan kaki dengan waktu yang cukup singkat, sekitar 10 menit saja.

Menara Pandang Siring Tendean (dokumentasi pribadi)

Jumat, 06 Oktober 2017

Peran Geospasial Dalam Mendorong Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional



“Jika dirawat dengan baik, tikar purun ini dapat bertahan hingga satu dasawarsa. Untuk membuat tikar besar dibutuhkan tiga ikat purun, dengan harga per ikat sebesar Rp 10.000. Setelah ditumbuk dan dianyam, tikar dijual seharga Rp 50.000. Di sini upah menganyam dianggap sebagai keuntungan. Sebagai pekerjaan sampingan di waktu luang, rerata keuntungan sebesar 15 hingga 20 ribu rupiah per produk tidak begitu dipermasalahkan”, begitu kira-kira informasi yang saya dapat usai berdialog dengan puluhan pengrajin purun yang tergabung dalam Kelompok Karang Lansia Sejahtera di Banjarmasin, Jum’at, 21 Juli 2017.

“Kalau tikar berwarna harganya berapa, Nek?”, tanya saya lebih lanjut.

“Sama saja, Nak”, jawabnya pelan.


Pengrajin Purun di Banjarmasin (Retno Septyorini, 2017)


Karena masih membidik segmen lokal, kalau dijual dengan harga yang lebih mahal akan kalah bersaing dengan pengrajin lain yang tidak perlu membeli bahan baku. Padahal jika mau berinovasi, bukan tidak mungkin produk purun buatan nenek-nekek Banjar yang dianyam begitu rapi dan kuat ini mampu menembus segmentasi pasar premium yang lebih luas dan terarah. Di sinilah peran kreativitas mutlak diperlukan.

Senin, 28 Agustus 2017

Rumah Tumbuh Tempat Ngangsu Kawruh Itu Bernama Jogja

Tugu Jogja


“Perbedaan itu tidak harus dikompromikan, tetapi perlu pengertian sehingga terwujud toleransi”, Sri Sultan Hamengku Buwono X (dilansir dari Republika, 2016) (1).

Sebagai kota multikultural, nuansa Jogja terasa begitu istimewa. Tidak hanya pada “raga” yang menyajikan aneka rupa tema wisata lengkap dengan segala “pemanisnya”, namun juga pada “jiwa-jiwa” yang menyediakan arena yang sebegitu nyamannya pada penghormatan atas perbedaan agama, suku maupun budaya.


Sabtu, 04 Maret 2017

Daftar Kuliner Enak Khas Jogja yang Sayang Jika Dilewatkan Begitu Saja

Banner Lomba Blog #2thGandjelRel
(sumber: www.gandjelrel.com)
Siapa sih yang mau nolak buat liburan di Jogja? Selain dikenal sebagai salah satu surga wisata murah Indonesia, pilihan wisata di Jogja terbilang melimpah. Pecinta wisata sejarah bisa menjelajah berbagai tempat bersejarah mulai dari Candi Ratu Boko, Museum Ullen Sentalu, Museum Anak Kolong Tangga hingga Keraton Jogja dan puluhan tempat menarik lainnya. Begitu pula dengan penikmat wisata alam dan fotografi. Tinggal datangi saja aneka tempat super istimewa di Jogja yang tak ada duanya seperti Gumuk Pasir, Kalibiru, puluhan pantai cantik yang tersebar dari Bantul hingga Gunungkidul atau yang terbaru, berburu keindahan sunrise dan sunset di berbagai bukit menawan di sekitar Kebun Buah Mangunan. Pokoknya mah tinggal disesuaikan saja dengan selera wisata teman-teman semua. 

Asyiknya lagi nih, Jogja juga menawarkan aneka event wisata tahunan yang gratis biaya masuk. Tinggal datang lalu nikmati saja performancenya. Penyuka musik jazz bisa rehat sejenak ke acara Ngayogjazz ataupun Jazz Mben Senen. Pecinta seni dan budaya bisa berkunjung ke Festival Kesenian Yogyakarta, Jogja Street Art Performance, Festival Gamelan Jogja hingga Pekan Budaya Tionghoa.  Begitu pula dengan penikmat kuliner kota gudeg, bisa berburu puluhan kudapan tempo dulu seperti sego wiwit, kipo, wajik ketan, sate kere, klepon dan “teman-teman”nya di event Pasar Kangen. Nggak akan ada habisnya deh kalau ngomongin soal wisata beserta sederet kuliner khas di sekitar Jogja. Mungkin berbagai alasan inilah yang membuat Jogja tetap menjadi primadona wisata di Indonesia.

***

“Terus kalau sudah di Jogja,enaknya nyicip apa ya?”.

Kalau saya ditanya begini sama teman yang mau atau sedang liburan di Jogja, maka saya akan menjawab dengan sepatah kata saja, “banyaaaaaaak!”. Gimana enggak coba, Jogja itu luas banget! Di sisi selatan ada Bantul. Pindah ke bagian barat ada Kulon Progo. Lanjut ke sisi timur ada Gunungkidul. Terus kalau mbolang ke arah utara ada Kota Jogja dan juga Sleman. Jadi mau jalan kemana bisa menentukan arah kulinerannya.

Mmmm, kalau menurutmu enaknya kulineran kemana aja Ret?”.

Kalau ditanya lebih spesifik kayak gini, saya akan menyodorkan daftar kuliner enak khas Jogja yang sayang jika dilewatkan begitu saja berikut ini. Yuk, kepoin yuk?

Sate Klatak 

Kalau ditanya musti nyicipin apa saat liburan ke Jogja, Sate Klatak-lah jawabannya. Sate paling fenomenal di Jogja ini sejatinya merupakan makanan khas dari Imogiri, Kabupaten Bantul. Kalau dari Bandara Adisucipto ataupun Stasiun Tugu, kawasan Imogiri dapat ditempuh sekitar 45 hingga 60 menit perjalanan.

Proses Pembuatan Sate Klatak

 

Cerita NOLNIL Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates