Senin, 14 Desember 2020

Kamis, 08 Oktober 2020

Review Film Boncengan: Edukasi Kejujuran dari Sekolah Dasar

 


Menonton Film Boncengan mau tak mau mengingatkan saya pada salah satu moment menggelikan semasa sekolah dasar (SD) yang ceritanya sebelas dua belas dengan Amin. Salah satu tokoh utama pada film berdurasi 16 menit garapan sutradara Senoaji Julius ini. Film Boncengan sendiri bercerita tentang lomba lari di sebuah sekolah dengan hadiah utama berupa sepeda. 

***

Sewaktu SD saya punya teman, sebut saja Delima (bukan nama sebenarnya). Di hari-hari biasa Delima jarang memperlihatkan tanda-tanda anak yang antusias saat mempelajari hal baru. Selain tidak aktif di kelas, nilai hariannya pun terbilang pas-pasan. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan nilai tes hasil belajar (THB) yang acap kali masuk peringkat enam besar di tingkat sekolah.

Karena terjadi berulang kali, pola nilai Delima akhirnya dihafali tak hanya oleh bapak atau ibu guru, tapi juga oleh teman-teman di kelas. Hingga suatu hari terkuak berita bahwa ada kerabat dekat Delima yang berkantor di sebuah sekolah. Tak ayal, “katrolan” nilai THB Delima pun langsung dihubung-hubungkan dengan profesi kerabat kawan saya itu. Sampai-sampai ada celetukan perihal prediksi nilai Delima segala.

“Lihat saja, nilai bagusnya paling mentok sampai THB terakhir!”, begitu kira-kira prediksi yang berdar waktu itu.

Apesnya, prediksi ini benar-benar terjadi. Saat pengumuman hasil UAN, nilai Delima kembali pas-pasan seperti sedia kala. Kalau boleh ditarik benang merah, cerita kawan saya tersebut hampir mirip dengan kisah Amin. Salah satu peserta lomba lari dalam Film Boncengan yang hampir menyabet gelar juara, sesaat setelah gelar juara tersebut dicabut dari Yua. 

Nuansa komedi yang kocak namun sarat makna menjadi poin plus film garapan Senoaji ini. Satu diantaranya terletak pada scene sampainya aksi curang peserta lomba ke telinga kepala sekolah. Berbagai kecurangan tersebut tersampaikan dengan cara yang mudah dimengerti sekaligus mengundang gelak tawa peserta, juga pemirsa. Adegan nylonongnya Ndut ke podium untuk mencoba sepeda menjadi awal mula terkuaknya kecurangan demi kecurangan yang terjadi pada lomba "besar" ini.

Di sisi lain ada Amin. Kandidat juara pengganti Yua yang merupakan pemenang pertama lomba periode sebelumnya. Tak berbeda dengan Yua, guna memenangkan lomba, Amin juga melakukan serupa. Bedanya, paksaan mbonceng yang dialami Amin disodorkan oleh bapaknya sendiri. Sebuah penggambaran sederhana yang menggambarkan ambisi pribadi orang tua tanpa memperhatikan psikologi anak.

Padahal Amin sempat melakukan penolakan dengan sikap enggan mbonceng motor bapaknya. Sayangnya penolakan yang sempat dilontarkan Amin dalam salah satu scene seolah tidak sebanding dengan ambisi juara yang begitu diidamkan orang tua. Hal ini begitu terlihat tatkala bapak Amin yang bersorak begitu riang usai mendengar pengumuman juara akhirnya jatuh pada anak laki-lakinya. Apesnya moment bahagia ini seketika ambyar usai pelaporan yang dilakukan oleh teman-teman Amin. 

***

Bisa jadi puluhan tahun silam hal ini dialami oleh Delima. Kawan sekolah yang sempat saya tulis di awal cerita. Tidak menutup kemungkinan pula hal semacam ini masih sering terjadi di sekitar kita. Maklum saja, embel-embel juara masih menjadi pembuka obrolan sebagian orang tua. Padahal masa depan anak tidak hanya bergantung dari titel juara semata. Seiring perubahan jaman, berbagai keahlian mutlak diperlukan untuk meraih masa depan. Ini belum menyoal perihal karakter anak begitu mudah mencontoh perilaku orang tua. 

Kuatnya pesan moral yang disampaikan dengan jenaka pada Film Boncengan dapat menjadi alternatif edukasi dalam medium yang menyenangkan. Di tambah lagi tujuh bulan terakhir anak-anak sedang menjalani kegiatan belajar dari rumah saja. Peran keluarga tentu sangat menentukan keberhasilan pembangunan karakter  generasi penerus bangsa, utamanya perihal kejujuran yang kian hari harganya kian meroket saja [Retno].

Senin, 07 September 2020

Kebangkitan Energi Terbarukan dari Pelosok Indonesia

 


Di Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, sampah organik yang dihasilkan warga tidak dibuang begitu saja. Berkat sinergi dengan berbagai pihak, keduanya mampu diolah menjadi sumber energi terbarukan yang ujung manfaatnya dinikmati kembali oleh warga sekitar. Berbekal mesin methagreen, sampah organik non nasi dari kawasan ini berhasil diolah menjadi tiga produk sekaligus, yakni pupuk cair, pupuk padat dan biogas. Inovasi-inovasi semacam inilah yang membuat Langgongsari menjadi selangkah lebih dekat menuju desa mandiri energi.

***

Sabtu, 28 September 2019

Menyelamatkan Ibu Pertiwi Melalui Budaya Anti Korupsi Sejak Dini

Salah Satu Harapan untuk KPK

“Meski saat ini Indonesia masih dikenal sebagai salah satu lahan basah tindak pidana korupsi, pendidikan anti korupsi tentu tidak boleh mati. Apapun alasannya, mengenalkan budaya anti korupsi sejak dini adalah bentuk investasi untuk menyelamatkan ibu pertiwi di kemudian hari”.

***

“Uangnya di meja ya Mbak Lima (bukan nama sebenarnya)”, jawab ibu tatkala ditanya letak uang untuk beli kentang dan berbagai kebutuhan lain yang diperlukan untuk acara supitan adik saya.

Walah, uang di meja kok tidak hilang. Kalau di rumahku pasti sudah hilang”, ujar Mbak Lima dengan raut muka sedikit keheranan.

Waktu itu ibu melempar senyum seraya berkata: “Kalau di sini bisa dipastikan keamanannya. Kalau bukan kepunyaannya, insyaallah tidak akan disentuh sama anak-anak. Apalagi sama bapaknya”.

“Kalau sedang butuh, pasti mereka akan minta ke saya. Kalau pas lagi ada ya langsung dikasih, kalau belum ada ya diberi pengertian dulu”. Begitu kira-kira percakapan lawas yang entah mengapa kembali teringang di benak saya.

Senin, 03 September 2018

Dukung Bersama Asian Games Kita, Demi Anak Cucu, Demi Indonesia Maju


Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Berfoto Bersama Atlet Peraih Medali di Ajang Asian Games 2018
Dokumentasi Sekretariat Kabinet
Kebanggaan saya sebagai warga negara Indonesia sekaligus sebagai bagian dari tuan rumah ajang olahraga paling bergengsi di Asia, Asian Games 2018 begitu terasa tatkala melihat ribuan penari berjajar rapi pada pembukaan Asian Games kali ini.

Ada desir bahagia yang membuncah di dada bahkan sejak detik pertama musik Tari Ratoh Jaroe ditampilkan pada pembukaan Asian Games kali ini. Tak lama kemudian, lagu ucapan selamat datang pun bergemuruh di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang diikuti dengan riuh gembira penonton yang menyaksikannya .

Salamualaikum kami ucapkan,
Para undangan yang baro teuka,
Karena saleum nabi kheun sunnah,
Jaroe ta mumat tanda mulia….


Selasa, 14 Agustus 2018

Peran Penting Keluarga Sebagai Pengontrol Pendidikan Anak di Era Modern

Makan Siang Bersama Buah Hati (dokumentasi pribadi)
Apapun perubahan maupun fenomena yang terjadi saat ini, peran keluarga dalam mengontrol pendidikan anak tidak akan tergantikan.

Tantangan Pendidikan di Era Kekinian
Tantangan pendidikan selalu berubah seiring dengan perkembangan jaman. Kalau dulu transfer ilmu umumnya bersumber dari keluarga, buku ataupun guru, kini seiring perkembangan jaman, siapa saja bisa menyebarkan pengetahuan.

Sabtu, 23 Juni 2018

Koperasi Milenial di Era Digital

KUD Tani Makmur (Dokumentasi Pribadi)
Foto di atas merupakan bagian dalam salah satu Koperasi Unit Desa (KUD) yang berada tak jauh dari tempat tinggal saya. Kalau dulu KUD di tempat saya cukup identik sebagai tempat untuk membayar listrik, tempat menjual sembako ataupun tempat menjual beragam kebutuhan petani, kini KUD sudah berkembang sekaligus berbenah sedemikian rupa sehingga dapat diterima oleh generasi milenial yang hidup di era digital. 
 

Cerita NOLNIL Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates