Jumat, 31 Maret 2017

Terpikat dengan Merti Kali dan Batik Gedangsari

Jika ditanya tentang dua hal yang memikat dari kota cantik bernama Jogja, maka sebagai penyuka lingkungan yang asri sekaligus pecinta kain nusantara maka saya akan menjawab pelan, “Merti Kali dan Batik Gedangsari”.

Eh, bentar-bentar, ada gitu yang belum tahu dengan istilah kaliDalam Bahasa Jawa, kali berarti sungai. Dalam diorama masa kecil saya, terdapat beragam cerita menarik yang berkaitan dengan sungai. Di awal tahun 90-an, saat saya duduk di bangku sekolah dasar, kali alias sungai merupakan suatu tempat yang begitu menarik hati, setidaknya untuk kami (saya dan teman sepermainan). Kala itu sungai mampu menjelma menjadi salah satu tempat berpetualang yang begitu mengasyikkan.

Kadang kami datang beramai-ramai menemani peternak yang berencana memandikan sapi di sungai. Entah dari mana awal beritanya, kalau ada yang mau memandikan sapi, pasti sampai ke telinga kami, si anak desa yang gemar berpetualang di alam. Sebenarnya jarak rumah dan sungai ditempat kami terbilang dekat, hanya sekian ratus meter saja. Setelah melewati jalan besar di kampung, kami harus menuruni area sawah terlebih dahulu. Sesampainya di sungai, kami pun segera berbagi tugas. Ada yang membersihkan bagian samping, belakang bahkan kaki sapi. Seru banget!

Saat mau pulang kami selalu mengingat-ingat dengan siapa saja kami pergi tadi. Seingat saya tidak pernah sekalipun ada anak yang tertinggal ataupun terseret arus saat berada di sungai. Saat tengah bermain ataupun memandikan sapi, kami saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain. Kalau ada anak yang mainnya agak di tengah, pasti diingatkan, entah itu oleh si pemilik sapi atau anak lainnya.

Selain untuk memandikan sapi dan mengairi sawah, sungai juga digunakan untuk mencuci pakaian. Entah berapa kali sudah saya menemani ibu tatkala perrgi mencuci pinggir sungai. Saat ibu mencuci, tentu saya sibuk sendiri. Kadang bermain air, kadang kecipak-kecipuk berenang di sepanjang aliran sungai yang terbilang aman dan tentu saja cukup dangkal untuk ukuran anak seusia saya. 

Satu lagi, ini boleh percaya atau tidak sih, dulu sewaktu kecil, saya pernah membawa pulang seplastik ikan dan udang berukuran sedang. Dua sumber lauk-pauk enak tersebut saya dapatkan dari sungai yang sedari tadi saya ceritakan. Begitulah sedikit gambaran kondisi salah satu sungai di sisi selatan Jogja di era 90-an. 

Merti Kali di Masa Kini
Seiring berjalannya waktu, gambaran sungai di dekat tempat tinggal saya tadi mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, meski sesekali digunakan untuk mencuci ataupun memandikan sapi, kondisi sungai terbilang jernih dan bersih. Masih ingat cerita ikan dan udang tadi bukan?

Sayangnya, lain dulu lain pula sekarang. Kini sampah kerap menghiasi beberapa sudut sungai di Jogja. Terkadang hal ini terlihat dengan begitu jelas karena ada sampah yang tersangkut di pohon yang tertelak di pinggir sungai. 


Salah Satu Sungai di Jogja (dokumentasi pribadi)
Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, Pemerintah Yogyakarta melalui Badan Lingkungan Hidup melakukan restorasi sungai yang dikenal luas dengan nama Merti Kali. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan dengan bersih-bersih sungai saja lho! Lebih dari itu, kegiatan Merti Kali juga mengedukasi pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian sungai pada masyarakat luas seperti himbauan agar tidak membuang sampah di sungai.

Menariknya, Merti Kali tidak hanya dilakukan oleh perwakilan pemerintah (para pemangku terkait) saja, namun melibatkan pula warga masyarakat, utamanya mereka yang berada di sekitar sungai. Dengan melibatkan masyarakat, diharapkan kegiatan Merti Kali menjadi solusi permasalahan yang menjagkiti sungai namun mampu menumbuhkan kepedulian masyarakat untuk bahu-membahu dalam menjaga kebersihan dan kelestarian alam di sekitar sungai. 

Dengan sungai yang sehat, diharapkan lingkungan sekitar sungai pun akan menjadi lebih sehat. Muatan sungai yang sehat, tentu membawa dampak yang baik pada hilir sungai yang tidak lain merupakan rumah bagi aneka komoditi laut yang sebagian diantaranya menjadi sumber protein hewani yang kita konsumsi sehari-hari. Jadi istilah menuai yang ditanam bukan sekedar isapan jempol semata bukan?

Tentu tujuan mulia Merti Kali tidak dapat dicicip dengan sekali jalan. Perlu kesabaran, kegigihan, kontinuitas serta sinergi dengan berbagai pihak. Sebelas dua belas rasanya dengan kesabaran dan kegigihan para pengrajin batik jota gudeg, tidak terkecuali para pengrajin batik di kawasan Gedangsari.

Batik Gedangsari (dokumentasi pribadi)
Mengenal Batik Gedangsari

Sebagai penyuka batik Jogja, saya merasa kecolongan karena baru tahu kalau Gunungkidul punya batik kenamaan yang dikenal luas dengan sebutan Batik Gedangsari. Saya tahu Batik Gedangsari saat media memberitakan pameran desainer muda berbakat Jogja, Lulu Lutfi Labibi pada bulan Juli tahun lalu. Dalam pameran tersebut, Lulu menggandeng siswa SMK binaan ASTRA. Seingat saya, corak batik yang khas dan sederhana tersebut terlihat begitu elegan dan memukau mata. Tidak seperti batik lainnya, kala itu corak batik yang lalu lalang di media sosial tersebut berkutat pada hewan dan tumbuhan yang mungkin masih terdapat di pedesaan. Satu yang paling saya ingat tidak lain adalah tanaman sederhana bernama pisang, yang dalam Bahasa Jawa disebut dengan gedang.
Sketsa Batik Gedangsari (dokumentasi prbadi)
Kekaguman saya semakin menjadi-jadi tatkala melihat langsung corak pisang tergores pada selembar kain putih pada salah satu stand peserta pameran Jogja International Batik Biennale (JIBB), Oktober tahun lalu. Usut-punya usut, stand tersebut merupakan stand Batik Gedangsari. Stand batik yang beberapa karyanya dipamerkan dalam pagelaran busana Lulu Lutfi Labibi. 

Belum sempat mulut ini mengatup, saya dibuat terpana untuk kedua kalinya menyaksikan berbagai karya kain batik yang berada di stand berukuran sekitar 5x5 meter tersebut. Pasalnya kain-kain batik tersebut tidak hanya dibuat oleh pemain UMKM semata, namun ada pula yang dibuat dari tangan anak-anak yang duduk di bangku sekolah menengah atas hingga siswa sekolah dasar..

Keberhasilan warga Gedangsari dalam membranding Batik Gedangsari tentu merupakan sinergi yang hebat dari berbagai pihak terkait, salah satunya adalah Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Rustam atau yang dikenal luas dengan sebutan YPA-MDR. Bak berjodoh dengan perayaan Inspirasi 60 Tahun Astra, saat berjunjung di stand Batik Gedangsari di event JIBB, saya dipertemukan dengan salah satu pengurus YPA-MDR, Bapak Rudy Kristanto.

Kala itu Rudy menjelaskan bahwa pembinaan pendidikan YPA-MDR di Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Gedangsari telah dilakukan sejak tahun 2007 lalu. Selain membekali siswa binaan dengan pendidikan, YPA-MDR juga membekali siswa dengan skill entrepreneurship yang memadai. Sebagai salah satu sentra batik terkemuka di Indonesia, YPA-MDR melihat batik sebagai salah satu cara melatih skill wirausaha kawula muda sekaligus sebagai upaya dalam melestarikan warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia. 

Entah mengapa saya melihat kegigihan yang sama dalam membangun Jogja pada Merti Kali maupun Batik Gedangsari. Kini, Merti Kali dikenal sebagai salah satu kearifan lokal Jogja yang mendunia, sedangkan Batik Gedangsari mampu mencuri hati penikmat kain nusantara dari berbagai negara. Sudahkah Anda mengenal keduanya?
Batik Gedangsari (dokumentasi pribadi)


Salam hangat dari Jogja 

-Retno-

Logo 60 Tahun Astra
(sumber: satu-indonesia.com)
Artikel ini diikutkan dalam Lomba Blog Inspirasi 60 tahun Astra.

1 komentar:

  1. Puji syukur saya panjatkan kepada Allah yang telah mempertemukan saya dengan Mbah Rawa Gumpala dan melalui bantun pesugihan putih beliau yang sebar 5M inilah yang saya gunakan untuk membuka usaha selama ini,makanya saya sengaja memposting pesang sinkat ini biar semua orang tau kalau Mbah Rawa Gumpala bisa membantuh kita mengenai masalah ekonomi dengan bantuan pesugihan putihnya yang tampa tumbal karna saya juga tampa sengaja menemukan postingan orang diinternet jadi saya lansun menhubungi beliau dan dengan senang hati beliau mau membantuh saya,,jadi bagi teman teman yang mempunyai keluhan jangan anda ragu untuk menghubungi beliau di no 085-316-106-111 rasa senang ini tidak bisa diunkapkan dengan kata kata makanya saya menulis pesan ini biar semua orang tau,ini sebuah kisa nyata dari saya dan tidak ada rekayasa sedikit pun yang saya tulis ini,sekali lagi terimah kasih banyak ya Mbah dan insya allah suatu hari nanti saya akan berkunjun ke kediaman Mbah untuk silaturahmi.Wassalam dari saya ibu Sartika dan untuk lebih lenkapnya silahkan buka blok Mbah disini ��Pesugihan Putih Tanpa Tumbal��

    BalasHapus

 

Cerita NOLNIL Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates