Selasa, 31 Januari 2017

Kekayaan Budaya dalam Keberagaman Perayaan Imlek Nusantara


Pertunjukan Seni Dalam Rangka Imlek di Hartono Mall Jogja (dokpri)
Bagi saya pribadi, perayaan Imlek begitu lekat dengan hujan dan pagelaran kesenian yang begitu menawan. Tak dipungkiri lagi bahwasanya perayaan Imlek di Indonesia selalu bertepatan dengan bergulirnya musim hujan. Tahun ini misalnya, Imlek jatuh pada tanggal 28 Januari. Kalau kata orang tua jaman dulu sih bilang kalau Januari merupakan kependekan dari "hujan sehari-hari". Uniknya, perkara datangnya rintik hujan yang datang saat Imlek ternyata memiliki kisah tersendiri. Menurut banyak cerita, bergulirnya rintik hujan saat Imlek merupakan pertanda baik, pertanda lancarnya rejeki yang akan mengalir lancar sepanjang tahun. Begitu pula yang diceritakan oleh si Cicik, salah satu rekan kerja saya. 


Saya ingat betul, tanggal 28 sore kemarin, Jogja diguyur hujan yang cukup deras. Karena cuaca malam di Jogja terasa cukup dingin, malam Imlek kemarin saya memutuskan untuk menghabiskan libur Imlek di rumah saja. Malam itu saya nongkrong di depan stasiun televisi yang memutar film berjudul A Battle of Wits. Sebuah film epic yang menceritakan upaya perdamaian yang diupayakan oleh seorang penganut aliran Mo, aliran yang mengajarkan kasih sayang antar sesama manusia. 

Meski termasuk film lawas yang diputar pertama kali di tahun 2006 lalu, namun inspirasi dalam film ini rasa-rasanya tak akan hilang ditelan jaman. Apalagi di tengah konflik kepentingan yang seringkali terjadi di tengah masyarakat kita, dimana letak ambisi pribadi ataupun golongan terkadang diposisikan jauh di atas batas toleransi. Apapun alasannya, saya sangat mengapresiasi diputarnya film ini saat libur Imlek kemarin. 

***
Menikmati Akulturasi Budaya Dalam Perayaan Imlek 

Jika mengingat berbagai kejadian di masa lalu, rasa-rasanya kita patut berbahagia karena beberapa tahun terakhir perayaan Imlek di Indonesia berlangsung dengan aman dan damai. Apalagi kini berbagai kesenian dalam Festival Imlek tidak hanya ditunggu etnis Tionghoa semata, namun menjelma pula menjadi bagian hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat luas. Perayaan Imlek di beberapa kota di Indonesia pun menunjukkan akulturasi budaya yang begitu menarik untuk ditelisik. Solo dengan Grebeg Sudironya, Jogja dengan Pekan Budaya Tionghoa-nya dan masih banyak lagi. 

Grebeg Sudiro misalnya. Meski istilah grebeg begitu identik dengan perayaan yang dilakukan oleh orang Jawa seperti Grebeg Besar, Grebeg Maulud ataupun Grebeg Suro, namun ada yang unik dengan grebeg di Solo. Kota cantik yang dikenal luas dengan Festival Payungnya ini memiliki akulturasi budaya Jawa Tionghoa dalam sebuah event unik bernama Grebeg Sudiro. Bagaimana tidak, puncak acara dalam Grebeg Sudiro tidak hanya dimeriahkan dengan kehadiran gunungan yang dibuat dari hasil bumi semata, namun hadir pula gunungan yang dibuat dari puluhan kue keranjang. Jenis kue lezat nan merakyat yang kini tidak hanya lekat dengan perayaan Imlek dan etnis Tionghoa saja, namun banyak pula digemari oleh masyarakat luas lintas etnis. Meski terlihat begitu sederhana, namun akulturasi budaya ini tentu patut untuk diapresiasi. 

Lain Solo, lain pula dengan Jogja. Kalau Solo punya Grebeg Sudiro, Jogja punya Pekan Budaya Tionghoa. Jika tahun lalu pekan Budaya Tionghoa hanya digelar lima hari saja, tahun ini event tahunan yang kini memasuki usia ke-12 tersebut akan digelar selama satu minggu penuh, mulai tanggal 5 hingga 11 Februari nanti. Seperti biasa, Pekan Budaya Tionghoa akan dihelat di Kampung Ketandan.

Meski bernama Pekan Budaya Tionghoa, namun tak hanya budaya Tionghoanya saja yang memeriahkan rangkaian acara Festival Imlek ini. Kalau 2015 lalu perayaan Pekan Budaya Tionghoa dimeriahkan dengan kehadiran Marching Band dari Akademi Angkatan Udara, tahun ini Pekan Budaya Tionghoa akan dimeriahkan dengan pagelaran budaya dari berbagai asrama daerah yang ada di Jogja. Meski tak terlihat begitu istimewa, namun bisa dibayangkan bukan bagaimana perayaan Imlek di kota cantik ini mampu merangkul dan menyatukan berbagai kebudayaan dari berbagai penjuru nusantara? 

***

Cerita Liburan Imlek di Jogja

Meski siang hari hawa Jogja terasa cukup panas, namun malam di weekend terahir Bulan Januari ini kota gudeg diguyur hujan. Karena sedang malas bikin teh jahe, meluncurlah saya ke Pasar Bantul untuk membeli wedang ronde. Seperti biasa, saya memesan dua porsi ronde ke dalam termos mini. Selain bisa diet plastik, cara ini cukup ampuh untuk menjaga hangatnya wedang ronde hingga berjam-jam kemudian. Jadilah liburan Imlek kemarin saya habiskan untuk menonton A Battle of Wits sembari ditemani legitnya kue keranjang dan hangatnya wedang ronde. Bukankah rasa bahagia bisa datang dari kombiasi hal yang begitu sederhana?

Entah mengapa malam itu saya begitu penasaran dengan asal-usul minuman legendaris ini. Rencananya informasi yang didapatkan akan ditulis di blog baru. Usut punya usut, ternyata asal muasal wedang ronde ini ada hubungannya dengan budaya Tionghoa. Konon cikal bakal minuman hangat yang satu ini berasal dari Tiongkok. Tangyuan namanya. Bedanya, bola-bola ketan dalam Tangyuan dibuat dalam berbagai ukuran dan warna yang berbeda-beda, sesuai selera pembuatnya. Selain itu, wedang ronde khas Indonesia diberi tambahan aneka tooping menarik seperti seperti kolang-kaling berwarna merah keunguan, kacang sangrai hingga potongan roti tawar. Lagi-lagi, tooping ronde pun bisa disesuaikan dengan selera masing-masing.

Kalau di Tiongkok Tangyuan identik sebagai minuman saat Imlek tiba, di Indonesia sendiri wedang ronde menjelma menjadi minuman lintas musim. Entah kebetulan atau tidak, kuah jahe dalam minuman ini cocok dinikmati di musim hujan seperti yang saat ini tengah berlangsung. Saking populernya di Indonesia, wedang ronde pernah menjadi salah satu minuman yang disajikan dalam perayaan pernikahan salah satu rekan saya. 

Kue Keranjang dan Wedang Ronde (dokpri)

Ternyata tidak hanya tradisi dan kuliner khas Imlek saja yang mampu menjelma menjadi "perekat" bangsa, namun pagelaran seni khas Imlek pun dapat berakulturasi dengan begitu indahnya. Salah satunya adalah pagelaran seni yang saya nikmati Senin malam kemarin. Dalam menyambut Imlek kemarin, salah satu mall di Jogja, Hartono Mall mengadakan berbagai acara menarik. Salah satunya adalah pementasan wayang kain khas Tiongkok bernama Wayang Potehi. Sayangnya sewaktu saya datang, pementasan wayang tersebut telah usai.

Sejarah Wayang Potehi (dokpri)
Meski demikian, panitia menjelaskan kalau sebentar lagi akan diadakan pertunjukan tari dari Sanggar Hokya. Jadilah malam kemarin saya menikmati beberapa tarian menarik, mulai dari Jathilan yang di mix dengan Angguk, Tari Gedruk Kreasi Baru hingga Tari Kerincing Mas. Tari-tarian tersebut ternyata telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga cukup diminati oleh generasi muda. Bagi saya hal ini terasa begitu menarik, bahwasanya Perayaan Imlek tak hanya menjadi salah satu hari besar etnis Tionghoa semata. Lebih dari itu, berbagai kesenian terkait Festival Imlek mampu menjadi media pemersatu bagi segenap bangsa Indonesia.

Kalau di Jogja ada Pekan Budaya Tionghoa, Palembang punya acara yang tak kalah serunya. Festival Imlek Indonesia 2017 namanya. Acara yang akan digelar di PSCC ini akan menghadirkan berbagai kegiatan menarik mulai dari Pawai Budaya dan Festival Budaya seperti pementasan Drama Kolosal Legenda Pulau Kemaro, Tarian 1000 Tangan, Wayang Potehi Show, Festival Barongsai hingga Lomba Tari Kreasi Bersama seniman kawakan, Didi Nini Thowok. Selain itu, ada pula Festival Kuliner dan berbagai lomba serta workshop menarik, seperti lomba blogging, lomba foto hingga workshop melukis lampion dan workshop membuat kaligrafi. 

We may have different religion, different languages, different colored skin, but we all belong to human race”. Couldn't agree more Mr Kofi Annan.


Salam hangat dari Jogja,

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Festival Imlek Indonesia 2017.

Banner Kompetisi Blog Festival Imlek Indonesia 2017
(www.festivalimlekindonesia.com)

1 komentar:

  1. Puji syukur saya panjatkan kepada Allah yang telah mempertemukan saya dengan Mbah Rawa Gumpala dan melalui bantun pesugihan putih beliau yang sebar 5M inilah yang saya gunakan untuk membuka usaha selama ini,makanya saya sengaja memposting pesang sinkat ini biar semua orang tau kalau Mbah Rawa Gumpala bisa membantuh kita mengenai masalah ekonomi dengan bantuan pesugihan putihnya yang tampa tumbal karna saya juga tampa sengaja menemukan postingan orang diinternet jadi saya lansun menhubungi beliau dan dengan senang hati beliau mau membantuh saya,,jadi bagi teman teman yang mempunyai keluhan jangan anda ragu untuk menghubungi beliau di no 085-316-106-111 rasa senang ini tidak bisa diunkapkan dengan kata kata makanya saya menulis pesan ini biar semua orang tau,ini sebuah kisa nyata dari saya dan tidak ada rekayasa sedikit pun yang saya tulis ini,sekali lagi terimah kasih banyak ya Mbah dan insya allah suatu hari nanti saya akan berkunjun ke kediaman Mbah untuk silaturahmi.Wassalam dari saya ibu Sartika dan untuk lebih lenkapnya silahkan buka blok Mbah disini ��Pesugihan Putih Tanpa Tumbal��

    BalasHapus

 

Cerita NOLNIL Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates