Jumat, 17 Juni 2016

Kini Berbagai Pencegahan Penyakit Berbahaya Melalui Vaksinasi Dapat Dilakukan di In Harmony Clinic

Sejak kemunculannya hingga kini, vaksin masih menjadi topik hangat yang diperbincangkan. Di pihak pro vaksin, tentu vaksin merupakan terobosan termuktahir dari dunia kesehatan yang berkaitan erat dengan tindakan pencegahan berbagai penyakit berbahaya yang sifatnya menular dan mematikan. Namun sebaliknya, di pihak yang kontra dengan vaksin ada yang mengkambing hitamkan reaksi vaksin atas kondisi kesehatan seseorang. Padahal yang berbicara seperti ini belum tentu juga tahu seluk beluk vaksin dengan benar. Nah, sudah benarkah pemahaman kita pada istilah vaksin tersebut? Mari belajar bersama! Oiya, bisa saling mengkoreksi juga lho ya!

Banner Blog Competition "Tindakan Pencegahan Penyakit"
(sumber dari sini)

Sudah Kenal Vaksin Belum?

Sebelum berbicara vaksin, ada baiknya kita kenalan dulu sama yang namanya imunisasi. Imunisasi merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kekebalan tubuh akan penyakit tertentu. Ada dua jenis imunisasi, ada imunisasi aktif, ada pula imunisasi pasif. Jenis imunisasi aktif dibagi lagi menjadi dua, yaitu imunisasi alami dan imunisasi buatan.

Ada hal yang menarik jika membicarakan imunisasi aktif alami ini. Pasalnya seseorang akan memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit saat ia telah mengalami sakit. Aneh memang, tapi begitulah faktanya. Campak misalnya. Seseorang yang terkena penyakit campak maka secara otomatis akan mendapatkan kekebalan alami dari penyakit campak itu sendiri. Namun jangan senang dulu mendapatkan kekebalan tubuh secara aktif alami seperti ini. Pasalnya jika terjadi saat hamil, infeksi campak dapat mengakibatkan penyakit Rubella yang bersifat sangat fatal bagi kesehatan janin, baik saat berada dalam kandungan ataupun setelah melewati proses kelahiran. Terkait hal ini, nanti akan saya bahas lebih lanjut.

Selain ada imunisasi aktif alami, ada pula imunisasi aktif buatan. Imunisasi aktif buatan inilah yang dikenal luas dengan istilah vaksinasi. Proses vaksinasi ini dilakukan dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh seseorang. Vaksin tersebut akan berisi kuman, bakteri atau virus yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga nantinya dapat menghasilkan kekebalan akan suatu penyakit tertentu. Sayangnya meski merupakan garda terdepan dalam pencegahan penyakit berbahaya yang mematikan dan menular, namun vaksinasi kerap disalah artikan dengan memasukkan bibit penyakit ke dalam tubuh seseorang. Walhasil banyak komentar miring yang kerap ditujukan pada vaksin ataupun proses vaksinasi itu sendiri, seperti:

Lho habis divaksin kok malah sakit ya?” atau “Kalau dibandingkan dengan anak tetangga yang divaksin, ternyata lebih sehatan anak saya yang notabene tidak divaksin lho! Maklum saja, dulu ASInya full. Jadi nggak gampang sakit deh!”. Nah, kalau sudah begini, orang awam dapat kebingungan.

Parahnya lagi, saya pernah mendengar cerita seorang teman yang tetangganya sengaja menjadikan anak sebagai ajang uji coba. Yang satu divaksin lengkap, yang satu divaksin sebagian yang satu tidak divaksin sama sekali. Apapun alasannya, hal ini sangat tidak patut untuk ditiru karena dapat membahayakan kesehatan anak. Belum lagi kalau si anak sampai terkena suatu penyakit tertentu, lalu menularkannya pada orang lain yang kebetulan belum divaksin.

Selain itu ada pula imunisasi pasif yang dapat dilakukan dengan pemberian air susu ibu (ASI). Memang tidak bisa dipungkiri bahwasanya pemberian ASI memang menawarkan berjuta manfaat, termasuk bermanfaat untuk kekebalan buah hati. Namun pemberian ASI hanya bersifat sementara saja, tidak seumur hidup bukan? Karena itulah ASI dikategorikan dalam imunisasi pasif yang tidak bertahan lama. Karena itulah meski diberi ASI, pemberian vaksin terhadap pencegahan penyakit perlu dilakukan. Lalu, apa sih manfaat vaksin?

Apa Sih Manfaat Vaksin?

Manfaat vaksin sangalah banyak, utamanya untuk mencegah infeksi penyakit berbahaya dan menular. Salah satunya untuk mencegah terjadinya penyakit TORCH. TORCH merupakan singkatan dari Toxoplasma, Rubella, Cytomegallovirus dan juga Herpes. Keempat penyakit ini dikelompokkan menjadi satu kelompok karena memiliki dampak serupa, yakni bersifat sangat membahayakan janin yang masih berada di dalam kandungan ataupun kesehatan dan perkembangan buah hati setelah melalui proses kelahiran.

Kenapa penyakit ini yang ingin saya bahas? Tidak lain karena saya ingin Anda mengetahui bahaya penyakit ini. Bahaya yang bisa mengancam kesehatan si kecil yang notabene merupakan calon generasi muda Indonesia.

Saya mengetahui penyakit TORCH dari salah seorang sahabat saya, sebut saja Mawar, bukan nama sebenarnya. Saya mengenal Mawar sekitar 11 tahun yang lalu, kami satu grup ospek, Sitosol namanya. Saya kuliah di fakultas science di salah satu universitas negeri di Jogja. Saat itu  saya melihat ada perilaku yang cukup mencurigakan dari kawan saya. Waktu itu, ia mulai bergabung di beberapa grup yang membahas tentang Rubella. Usut punya usut, ternyata keponakan saya yang tidak lain adalah puteri pertama Mawar terkena penyakit bernama Rubella tersebut.

Ternyata penyebab Rubella terlihat sangat sederhana dan mungkin masih banyak disepelekan orang. Dulu saat hamil Mawar sempat terkena campak. Sebuah penyakit menular yang tidak berbahaya saat menyerang orang dewasa, namun berubah menjadi penyakit yang begitu membahayakan jiwa janin saat diderita sewaktu hamil. Waktu itu Mawar bercerita, kalau infeksi campak diketahui saat hamil, istilah kasarnya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Semoga bayinya terlahir sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Begitu ceritanya. 

Kabar baiknya, puteri Mawar terlahir normal, tidak kurang suatu apapun. Kemudian ia bercerita lagi. Ada tiga kemungkinan saat ibu hamil terserang campak. Pertama, keguguran janin. Kedua, bayi lahir berkebutuhan khusus secara fisik. Ketiga, bayi lahir dengan fisik normal namun tidak mengalami perkembangan layaknya bayi sehat pada umumnya. Mendengar informasi ini saya merasa sangat kaget. Padahal waktu itu kami mengenyam pendidikan jurusan science, yang ilmunya sering nyerempet pada ilmu kesehatan, tidak terkecuali kesehatan manusia. Sayangnya, Mawar tidak mengetahui hal ini. Kalau disuruh berkata jujur pun sejatinya saya juga tidak tahu-menahu tentang penyakit ini. Pada akhirnya kejadian yang menimpa Mawar tersebut menjadi pelajaran banyak pihak, tidak terkecuali dengan teman-teman satu prodi kami.

Bersama Ibu-Ibu Hebat Dalam Acara Seminar Sehari Pencegahan dan Penanggulangan Akibat TORCH
(sumber dari sini)
Sejak saat itu, saya pun langsung mencari berbagai informasi terkait hal ini. Pernah suatu ketika saya diajak untuk mengikuti sebuah seminar berjudul “Seminar Sehari Pencegahan dan Penanggulangan Akibat TORCH” yang digelar pada bulan Agustus tahun lalu. Waktu itu ada sebuah informasi yang masih melekat di ingatan saya hingga kini.

“Bahkan ada sepasang suami istri yang dua-duanya berprofesi sebagai dokter, namun mereka tidak mengetahui tentang penyakit TORCH ini. Hingga suatu ketika mereka baru mengetahuinya karena salah satu buah hatinya mengidap penyakit yang merupakan bagian dari TORCH”. 

Tentu ada berbagai hal yang dapat diambil usai berkaca pada kejadian di atas. Bahwa penyebarluasan informasi akan penyakit TORCH belum masuk ke semua lapisan masyarakat. Karena itulah penyebaran informasi terkait TORCH memang perlu digalakkan sedini mungkin, utamanya bagi para calon pengantin atau pada mereka yang sedang merencanakan untuk memiliki buah hati. Apalagi gejala TORCH umumnya diketahui setelah kehamilan. Campak misalnya.

Selain berdampak buruk pada keselamatan, kesehatan dan perkembangan buah hati, campak merupakan penyakit menular yang dapat menular bahkan dengan cara bersalaman atau kontak fisik dengan benda yang sebelumnya terinveksi campak. Cukup mengerikan bukan? Jadi jangan segan  ya untuk memberitau atau bahkan kembali mengingatkan teman, sahabat, kerabat atau bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun agar senantiasa waspada terhadap penyakit campak ataupun TORCH ini. Salah satu cara untuk menyebarluaskan informasi terkait TORCH, bahkan pada orang yang belum dikenal sekalipun dapat dilakukan dengan cara blogging. 

Pencegahan Penyakit

Kalau persiapan pernikahan hingga puluhan juta saja kerap dihutang-hutangkan kesana-kemari, tentu merogoh kocek sedikit agak dalam untuk melakukan vaksinasi sebelum menikah merupakan agenda yang jauh lebih penting untuk dilakukan bukan? Apalagi jika hal ini juga menyangkut kesehatan calon buah hati, tentu melakukan vaksinasi bukan hal yang perlu diragukan lagi. 

Meski demikian, jika dibuat perbandingan, biaya pencegahan penyakit melalui vaksinasi jelas jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya pengobatan yang terjadi akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Penyakit Rubella misalnya. 

Terkait dengan vaksinasi, pencegahan terhadap penyakit Rubella dapat dilakukan dengan pemberian vaksin MMR, yang merupakan singkatan dari Measles atau campak, Mumps atau gondongan dan Rubella. Meski dihargai berbeda-beda, di tahun 2014 yang lalu vaksin MMR untuk bayi hanya dibanderol dengan harga Rp 100.000, saja. Jika ditambah dengan biaya lain terkait proses vaksinasi, total anggaran yang harus dikeluarkan tidak sampai Rp 250.000,. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan biaya perawatan penyakit Rubella yang konon katanya mencapai puluhan juta rupiah. Jika ingin melakukan vaksinasi, jangan lupa untuk mencari informasi sebanyak mungkin serta berkonsultasi dengan dokter spesialis anak yang dipercaya.

Tempat Vaksinasi

Vaksinasi dapat dilakukan di berbagai rumah sakit atau klinik kesehatan yang kredibel seperti di In Harmony Clinic. Klinik kesehatan yang beralamatkan di Jalan percetakan Negara IV B No 48, Jakarta ini menyediakan berbagai kebutuhan vaksinasi yang diperlukan oleh Anda ataupun si buah hati. Sesuai dengan tagline-nya, medical, preventive, alternative health clinic, In Harmony Clinic juga menyediakan berbagai informasi penting lainnya terkait pencegahan berbagai penyakit berbahaya lainnya secara lengkap dan terperinci. Beragam informasi seputar dunia kesehatan lainnya juga dapat Anda akses di website inharmonyclinic.com. Semoga bermanfaat. Selamat menebar manfaat.


Salam hangat dari Jogja,
Retno Septyorini

Referensi:


Artikel ini diikutkan dalam Lomba Blog "Tindakan Pencegahan Penyakit" yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan In Harmony Clinic.



0 komentar:

Posting Komentar

 

Cerita NOLNIL Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates